Senin, 20 Mei 2013

Ibrah sebuah perjalanan

Sudah lama tidak menulis catatan secara resmi, akhirnya saya mendapat ide untuk menulis cerita. anggap saja ini oleh-oleh dari jelajah ke Ibukota Provinsi Sumatra utara kemarin.

Cerita ini berawal di suatu siang menjelang sore, saat kami (seven icon ala Aceh, namun diperankan oleh 4 wanita dan 3 pria) hendak berburu buku di sebuah toko buku yang sangat fenomenal, yang tak asing lagi bagi  para penulis, karena selain nama toko buku, termasuk jua nama salah satu penerbit mayor. yach, Gramedia. kebetulan kami di Medan, jadi kami hanya menunjungi Gramedia yan ada di Medan yg berlokasi di jalan gajah mada. dengan uang pas-pasan, bermodal ala backpaker, mengantongi handphone, dan dompet akhirnya kami memutuskan untuk naik becak motor alias bentor setelah berjalan 7m dari rumcay (rumah cahaya) FLP Sumut. Bisa dibayangkan, karena jumlah kami yang wanita berjumlah empat orang, maka satu bentor yang tak seberapa luas itu pun kami naiki berempat.

Dari jalan sei deli ke gajah mada sebenarnya tidaklah terlalu lama memakan waktu di jalan, hanya saja kota ini terlalu keterlaluan macetnya. Alternatif lain pun diambil oleh sang supir untuk menyiasati kemacetan tersebut. Jalan-jalan tikus pun dimasukinya (serasa di film tom n jerry). Waahh ternyata jalan tikus pun tak kalah macetnya dari jalan metropolitan. Dengan berdesak-desakan di becak (karena kami ber4) akhirnya kami sampai juga di lokasi pertama kami setelah didahului beberapa menit oleh becak yang membawa 3rekan kami. 

sesampainya kami di pintu utama, pandangan mulai di edarkan ke seluruh penjuru ruangan, kami pun saling menatap satu sama lain untuk meyakinkan bahwa ini adalah saatnya kita bergerilya. tak perlu banyak kata-kata Seven Icon Aceh (SIA) yang berdiri membentuk shaff rapi itu pun langsung menuju titik yang telah direncanakan.

ada yang bertahan dilantai satu dan ada yang mencar ke lantai dua. termasuk saya, saya pun mencari tempat terpojok untuk lebih enak melahap buku-buku yang berbanjar rapi. disudut ruangan, tepat bertuliskan "buku-buku islami", namun tepat dirak sebelah buku2 islami terdapat sebuah kitab suci yang bersampul indah layaknya al-qur'an dan ternyata itu al-kitab.

Setelah yakin n mantap akhirnya kami pulang dengan membwa bungkusan yang berisi lebih dari sebuah buku yang sempat tersemat di rak toko buku itu. kami pun memilih berjalan kaki mengitari kota setengah metropolitan itu. hhe

"dunkin donat.. dunkin donat" salah seorang diantara kami request ingin membeli jajanan itu. sebut saja FL alias pjs kami. menyisiri gedung-gedung pencakar langit, akhirnya kami masuk ke ke sebuah mall yang bersebelahan dengan mesjid agung. sebelum ke tempat itu, kami mampir ke sebuah kuil, yang kemudian kami ketahui kuil itu bernama kuil shri mariamman. saya tak akan menceritakan sejarah kuil itu. namun ini kali pertama saya memasuki sebuah rumah ibadah selain mesjid, mushalla, langgar, balee, surau dsb.

ada getar aneh yang kami rasakan, haw kemenyan atau dupa yang baru dibakar, basahnya lantai disekitarnya mengisahkan bahwa baru saja ada upacara atau sejenisnya yang berlangsung sebelum kami tiba. tak banyak orang didalam ruang kuil itu, hanya ada seorang wanita yang sedang ritual, dan seorang laki-laki yang sedang tidur-tiduran disisi dalam kuil itu. bersih dan rapi, itulah yang tercitra dari tempat ibadah ini. segan untuk terlalu melangkah kedalam, akhirnya saya, bang FF, DH, DD, FL hanya mengitari pekarangan kuil itu saja. sedangkan FkR dan SY duduk diluar gerbang kuil.

hiasan berpatungan yang dianggap punya arti tersendiri bagi mereka banyak terdapat di dinding-dinding luar kuil, mulai dari yang kecil, sedang dan besar. saya penasaran, wanita yang didalam tadi melepas sendalnya atau tidak? saat saya berkeliling ke sisi kanan, saya menemukan rak sepatu atau sandal yang terisi oleh beberapa sendal orang yang berada didalam kuil. sempat tercetus "wah, sama ya dengan kita yang muslim". namun, ada sedikit sentilan yang saya rasakan. 

selama ini mungkin kita termasuk saya sering mengabaikan fasilitas yang disediakan di mesjid untuk membuat mesjid terlihat teratur, rak-rak sepatu sudah sering kita jumpai bertengger di pelataran mesjid. tapi apa? kebanyakan diantara kita malah memilih anak-anak tangga sebagai tempat parkirnya sendal kita yang ntah kemana-mana kita pakai. *mulai saat itu, saya berjanji untuk menjadi orang yang konsisten untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. apalagi ini punya pengaruh positif dan menjadi karakter serta identitas  umat muslim yang rapi dan teratur.

kemudian di tembok dekat rak itu bertuliskan sebuah amanat.
PEMBERITAHUAN
Mohon perhatian, para umat terutama remaja putri yang memasuki kuil agar supaya pakai pakaian yang sopan jangan memakai pakaian yang SEMPIT. antara lain : JEANS, ROK MINI, CELANA PONGGOL DLL. ini sangat penting mengingat kita berada ditempat suci / rumah Ibadah.

Nah, lho.. lagi-lagi.. dan ternyata benar, mereka sangat taat. mereka tidak memakai rok mini, baju youcansee, tak pula jeans ketat saat masuk kuil. sedangkan kita??? dengan bangganya masuk mesjid dengan celana ketat, jilbab lilitan. saat shalat, tepatnya ruku' dan sujud pakaian yang ketat membungkus itu terlihat, bagaimana ini? ahh saya tak cukup berhak menjawab semua ini.
lain hal lagi, dengan PD nya kita lenggang-lenggok, ketawa cekikikan dalam mesjid, berbaur antara laki-laki dan wanita..

Ahh.. aku pun hanya bisa menjiprat-jiprat sebuah moment disana. biarlah ini menjadi pelajaran bagiku, dan tugasku hanya mengingatkan diri dan kita semua. bahwa seharusnya kita bisa menjadi teladan bagi yang lain.. dan aku pun berlalu seiring berlalunya anggota SIA yang lain. dan kami pun menuju tempat yang telah kami targetkan, dan kembali dengan becak motor ke jalan sei deli.catatan perjalan TFT #1 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan kenang-kenangan setelah anda berkunjung walau hanya sebait sapa.. :)

 
;