Senin, 10 Maret 2014 2 komentar

Otobiodata

Name                     : Husna Linda Yani Ay
Nick                       : Husna, Linda, Yani, Husna Yani, Nda, Na
Place of Birth          : Langsa, Aceh, Indonesia
Date of Birth           : July, 10st 1990
Gender                   : Female
Nationality              : Indonesian
Contact Address     : Jl. Meurebo No. 15 A12 Seksel.
Phone                     : 0852 97xx xxxx
Email Address        : hoe5n4_tekarste@yahoo.com atau semangatmenulis@yahoo.co.id
Weblog                   : http://husnaright.blogspot.com/
Hobbies/Interests    : Drawing, Writing, Computing, Blogging, Playing, Organization, Hiking, Rain, Travelling, Jogging.

Rawatlah ruang khusus untuk orang yang spesial, yang akan Allah hadirkan di waktu yang tepat.
Jika kamu menolong Agama Allah, Allah akan menolongmu. Qs. Muhammad : 7
Kamis, 06 Maret 2014 0 komentar

I Love You – Najwa Latif

Mungkin kita pernah rasa tentang cinta
Yang takdirnya bukan untuk kita
Mungkin ini adalah cara meluah cinta
Tanpa berkata atau berpandang mata

Mungkin aku mencintaimu
Walaupun engkau tak pernah tahu
Mungkin aku mencintaimu
Tanpa lelah atau pun jemu

I’m sorry but i love you
I’m sorry if i miss you
Even if i can’t have you
You know i’ll always be there for you

Mungkin kita tak bersama itu takdirnya
Tak mengapa asal kau bahagia
Biar aku mencintaimu biar tiada siapa yang tahu
Biar aku mencintaimu dalam diam ataupun bisu

http://www.youtube.com/watch?v=K44T7Kt5XX8

Rabu, 05 Maret 2014 0 komentar
0 komentar

Surat Tuk Pak DI (Naskah Lama)



Kepada Yang Terhormat,
Menteri BUMN, Bapak Dahlan Iskan
di tempat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar bapak? Semoga Bapak dan keluarga senantiasa dalam berkah dan lindungan Allah SWT serta tetap sehat wal afiat. Perkenalkan pak, nama saya Husna Linda Yani. Biasa dipanggil Husna. Saya masih menyandang status mahasiswi jurusan Arsitektur Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. 

Senang rasanya bisa berbalas surat dengan Bapak. Yang sedikit saya tau tentang bapak, kalau tidak salah dahulunya bapak adalah seorang jurnalis hebat. Mungkin itu tidak hanya dahulu, tapi juga sekarang. Kebetulan karena kebiasaan saya yang sesekali suka menulis namun bukanlah seorang jurnalis (hanya lebih fokus pada tulisan fiktif) sehingga teman-teman senior yang lebih jago menulis mengirimkan informasi menulis kepada saya tentang Menulis Surat untuk Bapak. Wah, benar-benar senang rasanya jika surat ini benar sampai kepada Bapak. Itu artinya terjalinnya silahturahim antara saya dan bapak dan juga yang mengantarkan surat ini serta orang-orang lain yang telah menjadi penghubung silaturrahim antara kita.

Jujur Pak, sebenarnya saya tidak terlalu mengenal siapakah sosok Bapak Dahlan Iskan. Maaf pak, mungkin itu karena status saya sebagai anak rantauan yang nge-kos. Sehingga jarang mengikuti perkembangan informasi di TV dan juga saya mahasiswi Arsitektur yang fokusnya selalu berkutat dengan kertas gambar dan seperangkat alat pendukungnya. Namun, akhir-akhir ini saya menyadari bahwa sosok Bapak sungguh terkenal dan telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di Negeri ini.

Mulailah saya mencari biografi Bapak baik melalui Internet, grup-grup yang mengatasnamakan Bapak serta blog-blog yang memuat pemberitaan tentang Bapak. Tak cukup hanya itu, saya pun mulai mencari-cari sumber hidup yang telah mengenal bapak baik yang pro maupun tidak. Karena itu, saya memberanikan diri untuk memulai menulis surat ini.

Yah, ternyata Bapak adalah sosok pemimpin yang amat sangat  “ sederhana ”. Sederhana dalam menjadi sosok pemimpin, yang tidak segan-segan sering naik KRL maupun ojek untuk pergi ke gedung DPR walaupun sebenarnya Bapak mempunyai jabatan yang memberikan fasilitas. Yah, Bapak memang bisa bersikap sederhana dalam kehidupan sehari-hari. “Sederhana dalam berkesahajaan”.

Namun yang saya ketahui Bapak bukanlah sosok pemimpin yang sederhana dalam memecahkan masalah. Itu yang membuat saya sedikit demi sedikit mengagumi bapak. Kenapa saya berkata begitu? Karena kenyataannya begitu. Bapak mampu memberikan eksistensi yang lebih dalam setiap tugas yang Bapak emban dan juga pemikiran bapak tidak sesedarhana penampilan Bapak.

Sehingga wajar saja, jika orang-orang mengagumi bapak. Karena toh saya juga menjadi bagian dari orang-orang yang mengagumi Bapak karena kerja keras yang bapak lakukan.

Dikala Negeri ini mulai kehilangan kepercayaan atas sosok pemimpin, Bapak hadir bagai oase penyejuk di gurun gersang kepercayaan. Disaat kita kehilangan citra pemimpin yang merakyat, kini Bapak hadir dengan wibawa yang luar biasa dekat dengan rakyat. Saat semua menjerit, bapak yang mulai bergerak. Itulah kiasan yang tepat menggambarkan sosok seorang Dahlan Iskan.

Namun, apakah semua ini benar-benar murni suatu langkah perubahan baru untuk Negeri ini atau ini hanya sebuah pencitraan baik kepada tokoh dengan tujuan tertentu dibalik itu?. Wallahua’lam bissawwab.

Wahai Bapak Mentri, saya cuma seorang mahasiswi Teknik Arsitektur yang sangat awam dengan pendidikan politik. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk mencoba memahami ranah politik. Bapak boleh menganggap gaya politik yang saya pahami ini sebagai gaya Politik anak Teknik. Jadi wajar kalau yang saya pahami salah, karena saya bukan dari Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP) maupun Fakultas Hukum.

Susah memang untuk menjadi seorang pemimpin yang ideal. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang memberi contoh dan serta mengayomi orang-orang yang dipimpinnya. Seperti halnya yang Rasulullah ajarkan. Sebelum beliau memerintahkan kita untuk melakukan shalat lima waktu, maka beliau pun mengerjakan itu bahkan beliau tak pernah absen menjadi imamnya (pemimpin), jika tidak ada alasan yang urgent.

Seperti inilah sosok pemimpin yang diimpikan oleh rakyat. Mungkin tak akan sesempurna beliau, tapi setidaknya sebelum melakukan hal itu, maka kitalah yang menjadi orang terdepan untuk menjalankan hal itu. Sehingga orang yang kita pimpin tidak merasa menjadi “pesuruh”.

Memang susah ya Pak untuk memimpin masyarakat Indonesia yang ratusan juta jiwa penduduknya. Kita harus bersama-sama membangun komunikasi untuk menyamakan tujuan yang kuat agar setiap masyarakat paham benar tentang pentingnya sebuah Negara.

Oh iya Pak, Saya ingin bertanya terkait isu yang saya dapat di media. Maaf jika saya lancang, namun sepertinya ini saat yang tepat bagi saya untuk menanyakan keganjalan yang ada. Apakah benar dibalik pencitraan yang begitu melambung terhadap Bapak, ada sesuatu atau lebih dari sesuatu tujuan terselubung yang merugikan rakyat Indonesia serta mengecewakan rakyat Indonesia tentunya.

Bukannya ingin berburuk sangka terhadap Bapak yang telah banyak memberikan perubahan dalam Negeri ini. Tapi, hanya mencoba mencari jawaban yang tepat langsung ke tokoh yang terkait. Dan dalam isu ini, memang ditujukan kepada Bapak.

Seperti isu yang beredar mengatakan bahwa Bapak sebagai Menteri BUMN telah memberikan kewenangan kepada Direksi BUMN untuk melakukan penjualan aset BUMN tanpa melalui persetujuan DPR. Yang seharusnya pelimpahan wewenang kepada direksi BUMN untuk melakukan penjualan aset BUMN tanpa melalui mekanisme legal akan melanggar pasal 24 ayat (5) UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara dan pasal 45 dan 46 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, yang mengatur bahwa penjualan aset BUMN harus melalui persetujuan dari DPR, Presiden, dan atau Menteri Keuangan, sesuai tingkat kewenangan masing-masing.

Bisa saja saya salah paham dengan berita ini, karena seperti yang saya katakana bahwa saya hanyalah seorang mahasiswi fakultas teknik. Tapi jika Bapak berkenan untuk meluruskannya kepada saya dan juga untuk semua masyarakat Indonesia. Pastinya kami semua akan lebih cerdas dalam menanggapi isu-isu miring tentang sosok Bapak yang sangat menginspirasi.   

Tetap sabar dan semangat ya Pak. Setiap kita melakukan suatu perubahan memang selalu saja ada isu-isu positif maupun negatif tentang yang kita lakukan. Namun itu semua lebih baik, dari pada kita tidak melakukan apa pun. Anggap saja Pak, itu semua sebagai penguat kita untuk bekerja lebih baik lagi untuk Negeri ini.

Satu statement Bapak yang saya kutip dari media tentang tawaran Gubernur Jawa Timur adalah “Saya menerima tawaran Gubernur Jatim itu dengan tiga syarat. Pertama: saya tidak mau digaji! Kedua: apa yang saya lakukan jangan diganggu. Ketiga: jangan berikan fasilitas apapun,” ucap Bapak waktu itu.

Wajar kalau Bapak menjadi tokoh yang menginspirasi. Semoga itu terus melekat dalam diri Bapak. Dan semoga dibalik semua kepercayaan yang telah Bapak raih, tiada unsur tersirat maupun tersurat yang dapat mengecewakan dan membuat rakyat menangis. Dan semoga di Aceh akan lahir banyak orang-orang yang tak kalah menginspirasi seperti Bapak.

Wallahua’lam bissawwab. Semoga suatu hari saya dan Bapak bisa berbalas surat kembali atau saya bisa berjumpa dan belajar banyak hal dengan Bapak. Mohon Do’akan saya juga Pak, untuk menjadi mahasiswi yang dapat mengemban Tri Darma Perguruan Tinggi. Selamat Berjuang Bapak.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuhu

Banda Aceh, 30 April 2012
Salam Hormat,
Husna Linda Yani, Mahasiswi Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH),
Banda Aceh
Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba surat untuk Pak DI
0 komentar

Melihatmu di Batas Waktu

Senyum itu mengulum indah dari wajahmu yang bersih

Dari balik kaca minus yang menutupi mata,

Kulihat teduhnya pesonamu

Aku masih menyimpan rasa itu untukmu

Namun, takdir bukanlah milikku untuk bisa bersamamu

Dibatas waktumu, kau telah dinanti oleh yang lain

Senyummu itu sudah berpemilik

Teduhnya matamu telah lekat menatap si dia

Biarlah aku ikut bahagia melihatmu di batas waktu

Maafkan aku yang sempat mendesain ruang dihatiku

Dengan namamu…

 

 Januari, 2014 (Diikutsertakan dalam lomba cipta puisi cinta)

 

 

 

0 komentar

Parafasia Hati

Parafasia Hati

Aku tak tau bagaimana harus menguak rasa itu

Rasa yang telah ku sembunyikan bertahun-tahun silam

Kini…

Kau kembali hadir di kehidupanku

Kau kembali muncul membuat hatiku tak beraturan

Setiap yang kau lakukan, menghentikan pikiranku tentang yang lain

Kau menyedot energiku untuk membongkar kenangan lama

Kenangan indah saat kita pernah bersama dulu

Bersama sebagai teman

Dan kini, benarkah kita teman?

Ataukah hanya sebatas teman?

 

 

Januari, 2014(Diikutsertakan dalam lomba cipta puisi)

0 komentar

Maafkan Aku Acuh

Antologi ke 5



 Dag Dig dug
Wahai insan, sungguh aku adalah wanita yang lemah

Pesonamu itu sebenarnya telah mendobrak dinding hatiku
Setiap perhatian yang kau berikan itu membuatku terlena
Sungguh aku mulai menikmatinya
Namun, maafkan aku yang harus acuh padamu
Walau aku memiliki rasa itu
Namun aku tak ingin kau terjerembab dalam tingkahku yang tak terjaga
Aku harus acuh, agar rasa ini tetap terjaga sebagaimana mestinya
Acuhnya ku bukan berarti ku membencimu
Tidak!!!
Tapi, biarlah aku acuh agar tak tampak rapuh
Jikalaupun kau bukan untukku.

 

 

Januari, 2014 (Diikutsertakan dalam lomba cipta puisi)

Senin, 03 Maret 2014 0 komentar

Surat Cinta Tu' FUAT (SCTF) Juara II (Milad FUAT 15)



Assalamu’alaikumwrwb buat pengurus FUAT yang sedang membaca Surat cinta ini. Tak mungkin salam ini saya tujukan kepada benda yang hanya memiliki jasad berupa ruang kecil yang ada disisi Mushalla Baitul Mashna’. Karena ruhnya itu sendiri terletak pada Esensi yang terdapat pada kader-kader FUAT yang paham akan peran utama LDK FUAT di kampus para raja.
Logo LDK FUAT. (ist) 
Bagaimana kabarmu FUAT? Wah, tak terasa usiamu telah beranjak hampir memasuki masa remaja sepenuhnya. Telah 15 tahun ternyata kamu berada dalam lingkungan para teknokrat. Yang saya tahu, saat ini kamu semakin bersahabat dan semakin lekat bahkan semakin paham akan apa yang diharapkan oleh penghuni kerajaan ini.

HmmM… saya masih ingat bagaimana awal kamu menjadi bagian dalam hidupku. Apakah kamu masih mengingat itu? Ah.. tak mungkin kamu masih mengingatnya. Beragam anggota yang pernah kau temui sesuai masanya. Ada yang datang sebentar da nada juga yang hingga akhir dan akhirnya meninggalkanmu dengan anggota dimasa-masa selanjutnya. Saya hanya satu dari sebegitu banyak yang harus kamu ingat.

Namun tak mengapa, aku akan mengulang lagi kisah bersamamu, agar kamu pun bisa tertawa mengenang masa-masa itu. Hhe.

Mungkin saat itu usiamu masih 10 tahun. Kita bertaut umur sekitar delapan tahun. Tapi bagi saya, kamu lebih dewasa dari saya. Karna kamu telah lebih dahulu mengecap kehidupan di kampus para raja ini, kamu lebih dikenal ketimbang saya yang usianya bisa dibilang lebih tua. Tapi disaat itu kamulah yang harus saya ikuti. Sayalah yang memaksa-maksa teman-teman seangkatan saya untuk mengenal kamu lebih dekat.

Saat itu, kamu belum tinggal di Mushalla Baitul Mashna’. Tapi kamu masih berada di ruang antar lorong sempit sebelum balker. Tempat yang cukup pengap tanpa ventilasi namun kamu begitu tabah dan tak jumawa dalam menghadapi kondisi itu. Kamu tetap mengajak anggotamu untuk berfikir keras, untuk kreatif mengatasi kesederhanaan itu agar tampak elegan.

Dengan malu-malu, saya mencari tahu informasi lebih dalam tentang kamu. Apa kesukaan kamu, sejak kapan kamu ada di istana ini, kapan kamu akan buat orientasi penerimaan anggota baru dan tak hanya itu, saya pun sempat berkenalan dengan kakak-kakak yang mengarahkan saya untuk bisa semakin dekat dengan kamu.

Dan… kamu resmi menjadi bagian berarti dalam kehidupan saya di kampus para raja ini. Apalagi saat itu saya menyandang penghargaan sebagai peserta orientasi terbaik, teraktif dan teribut. Di balaik bukit Montasik aku melihatmu seakan tersenyum padaku. Ingatkah kamu kisah itu?

Oya FUAT, kamu tahu apa?

Sebenarnya setelah saya dekat dan sangat dekat denganmu, ada rasa jenuh yang membuat saya mengambil jarak darimu. Namun, bukan jarak jauh yang ingin meninggalkanmu. Aku hanya jenuh ketika semua amanah yang seharusnya dibagi rata harus saya pikul sendirian. Walaupun tidak sendirian. Tapi disaat itu, ada amanah lain di luar sana yang diembankan juga pada saya.

Ada rasa cemburu pada teman-teman yang lain, yang kala itu mereka bisa bersantai-santai, sibuk dengan tugas kuliahnya, atau tilawah dengan khusuknya sendirian. Dalam hati, saya pun menjerit. Saya ingin juga punya waktu luang itu. Saya ingin juga punya waktu lapang itu. Saya pun ingin punya waktu untuk membahagiakan diri sendiri. Tapi kenapa saya tak mendapat waktu luang itu?

Dan akhirnya, saya pun meminta izin untuk meninggalkanmu sejenak, namun apa? Tak ada izin yang saya dapatkan. Saya tak mengerti kenapa mereka menahan saya? Mengapa mereka pilih kasih? Mengapa mereka membiarkan teman-teman saya yang lain menggapai mimpinya? Tapi kenapa dengan saya?

Jawaban itu saya dapatt setelah saya melalui banyak masalah denganmu. Kenapa dan kenapa itu saya temukan jawabannya ketika saya benar-benar akan meninggalkanmu karena waktu saya hampir habis di kamapus para raja ini. Jawabannya adalah karena CINTA. Cinta itulah yang menahan saya untuk tidak meninggalkanmu. Cinta itulah yang membuat saya semakin dewasa mendampingimu. Cinta itulah yang membuat saya merasa nyaman bersamamu.

CINTA. Tak sekedar susunan alphabet yang terdiri dari dua vocal dan tiga konsonan. Tapi lebih dari itu. Karena CINTA itu hadir karena kamu membawa saya mengenal sang pemilik cinta seutuhnya. Kamu seakan-akan menjadi tameng saat saya hampir terjerembab dalam gemerlap istana ini. Dan karena cintamu itu ada lantunan do’a-doa pengikat hati dengan saudara-saudari yang kian bertambah bak keluarga yang tak bisa terganti.

Terimakasih FUAT. Tak bisa saya pungkiri lagi, saya benar-benar mencintaimu karena Allah sang pemilik cinta. :) Barakallahumilad ya. Semoga semakin dekat dan bersahabat serta terus menebar pesona dakwah di kampus para raja ini.

Disini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria.
Brother : Untukmu Teman
Salam cinta untuk semua :)

Mendampingi MPP FUAT 2013
Rekam kebersamaan with FUAT Lintas Generasi

Foto Rian Satrizan.
Survey Lokasi Draft di Sara Tahun 2010
Kantin (Kjian Rutin) di Kantin Fak. Teknik
Kenangan RIhlah 2010

Selepas Pembagian Hadiah Aneka Lomba memperingati Milad FUAT




 
;