Lihatlah, apa yang terjadi saat api yang sedang berkobar, kita siram dengan guyuran air. Api memang padam, namun komponen dari pemantik api tersebut, akhirnya melemah dan tak bisa digunakan hingga beberapa waktu ke depannya. apa itu pemantik api? ialah dedauan kering yang mulai basah dan lembab, yang akhirnya, akan menimbulkan masalah baru.
Begitu juga dengan diri kita, saat emosi datang, konflik perseteruan memanas antara sesama, ataupun konflik dalam sebuah lembaga, memadamkan api kemarahan bukan dengan cara membekukan aktifitas mereka dalam sebuah lembaga tersebut. Tapi uraikanlah tumpukan api itu agar tak bersatu. Dengan begitu, kita tetap bisa memanajemen kobaran emosi.
Yah.. Inilah Pelajaran yang Allah berikan kepada saya sore ini. Ayat-ayat kauniyahnya begitu Jlep memperingati saya. Terimakasih Allah.
Lamduro, Aceh Besar. Januari 2015
Dilepas pergi bersama hati yang lain
Biarlah cinta
Dipayungi rindu yang lain
Biarlah cinta
Menemui persinggahan yang lain
Biarlah cinta
Berlayar bersama Nahkoda yang lain
Biarlah cinta
Menyelami Sakinah bersama yang lain
Karena yang lain itu bukanlah dia
Tapi yang lain itu adalah kau yang belum mengenal aku dan aku pun belum mengenalmu
Biarlah cinta
Mengenalkan kita yang berlainan
Biarlah cinta
Menguatkan kita yang saling berbeda perangai
Biarlah cinta
Yang menyatukan kita dengan CintaNya
Yah..
Biarlah cinta
Itulah perputaran hidup manusia. Kita tak pernah menduga dan tak bisa menerka apa yang terjadi di masa mendatang. Teman berkelahi di masa sekolah bisa jadi partner kehidupan yang membawanya ke pelaminan. Teman berpacu nilai tetringgi dari guru mate-matika, bisa jadi karyawan di kantor kita. Bahkan, Teman dekat malah ada yang berpaling dan berkhianat. Walau tak semuanya begitu.
Begitulah hidup ini.
Tak terasa, sepanjang perjalanan hidup ini, sudah berapa banyak orang yang kita temui. Beragam macam sifat dan perangai. Pastinya, tak hanya hal-hal yang menyenangkan saja yang telah kita lewati. Justru, ada torehan luka yang mungkin hingga kini belum termaafkan atau terlupakan. Na'uzubillah. Semoga seiring dengan kedewasaan usia kita, maka kita semakin dewasa menyikapi masa lalu tanpa harus membuntuti kita di masa kini dan akan datang. Maafkanlah jika ia bersalah. Termasuk juga saya. Maafkan.
Malam ini, saya kembali mengenang hal-hal yang telah saya lewati selama hampir seperempat abad. Mungkin, saya tak mampu mengingat semuanya secara sendirian, sebab usia 1-3 tahun, bahkan 4 tahun saya masih tak mampu mengingat kejadian apa yang saya alami. Adalah foto-foto masa lalu dan juga cerita-cerita yang bersumber dari mereka yang tercinta.
Menapa rasanya, baru saja kemarin saya duduk bersama 115 orang mahasiswa baru di jurusan Arsitektur?
Seakan saya baru saja menjabat sebagai presidium di Pemerintahan Mahasiswa Unsyiah. Diamanahi menjadi ibu di kementrian Polhukam yang selalu menanyai kabar anak-anak yang berjumlah lebih dari 50an orang. Dengan karakter yang masyaAllah sangat unik.
Baru saja rasanya dekat dengan anak-anak itu. Yang akhirnya memanggilku dengan sebutan Bundadari atau bunda. Baru saja rasanya.
Baru saja aku bersama dengan para penulis hebat di FLP Aceh yang kemudian mengutusku untuk bertemu dengan puluhan penulis se sumbagut yang akhirnya tersapalah aku dengan panggilan Mak, hingga kini. Baru saja rasanya
Baru saja rasanya, duduk rapat di BEM FT membahas beragam agenda, dan hal serupa rasanya baru saja ku lakoni bersama teman-teman DPM FT.
Ah.. Baru saja rasanya mengabdi di Lembaga yang sangat berjasa itu. LDF FUAT FT. Baru saja rasanya, walaupun kini..... Sudah beberapa generasi yang telah mewarnai setelah kami
Ah.. Baru saja. Sungguh baru saja aku menjadi seorang mutarabbi dari beberapa orang murabbi hasil mutasi. Dan kini, aku pun sudah menjadi murabbi, dan telah menjadi saksi pernikahan seorang mutarabbi. Ahh baru saja.
Baru saja aku merasakan moment-moment pulang kampung berkumpul dengan keluarga besar di tambah abang ipar dan kini, sudah ada kakak ipar dengan dua orang malaikat kecil serta seorang malaikat kecil lagi.
Rasanya. Baru saja aku hijrah menggenakan jilbab secara syar'i yang kemudian mempertemukanku dengan ROHIS, HIPISA, KAPMI dan KAMMI.
Ya Allah.. Baru saja rasanya, aku merengek tangis saat kau tiupkan ruh hingga aku mampu melihat dunia. Dan kini, tak terasa hampir seperempat abad.
Ya Allah, baru saja rasanya memiliki guru yang baik hati n sabar mendidikku ilmu duni dan ilmu akhirat, tapi kini, mereka telah pergi
Yah, Baru saja rasanya aku menjadi anak paling kecil di rumah ini dengan sebutan adek. Tapi ini, sebtan itu sudah milik keponakanku.
HmmM.. Baru saja rasanya, aku berlari-lari mengejar layangan di tengah lapangan, bermain petak umpet di kebun karet ataupun main rumah-rumahan di ladang ubi milik tetangga.
Baru saja rasanya, berseragam putih biru donker dan putih abu-abu.
Baru saja.. Baru saja dan Baru saja semua hal itu mengisi hari-hari saya.
Waktu begitu cepat berlalu rasanya. Tapi semua itu hanya rasanya. Kitalah yang terkadang sombong dan angkuh dalam menjalan hari-hari kita.
Jika ada masih diberi kesempatan untuk menrasakan baru saja rasanya, maka esok aku akan menuliskan rasanya menjadi seorang hafizah yang sudah tidak terbata-bata lagi dalam menghafal
Ingin dipertemukan dengan seseorang yang berani memintaku pada orang tua dan bersedia membimbingku menuju cintaNya.
Ingin merasakan menjadi ibu biologis dari anak-anak yang akan menjadi pribadi sukses dunia-akhirat, insyaAllah dan tetap menjadi ibu ideologis bagi mereka
Ingin rasanya menginjakkan kaki di rumahMu ya Rabb. Bersama mereka yang terkasih
Ingin Rasanya.................. (My Dream)
End
"Na, aku sedang sedih kali ini" Ucap Rara sambil masuk ke dalam rumah.
Raut wajahnya yang menurut orang-orang yang belum nengenalnya sangar, tak punya hati terasa berbeda sore ini. Ada lembayung rindu di sudut matanya.
Aku menuntunnya masuk dan mempersilahkannya duduk di ruang tamu ala anak kosan.
"Ini minum dulu, aku tak punya apa-apa. Cuma air zamzam alias air putih dan makanan ringan ini yang ku punya" ucapku setengah bercanda sambil menata gelas dan toples di depannya.
Rumah kami bersebelahan sebenarnya. Hanya saja kunci rumahnya terbawa adiknya dan suaminya pun belum pulang. Ini bukan kunjungan pertamanya ke rumahku. Tapi inilah kunjungan terlamanya, Allah mengatur waktu sedemikian syahdunya untuk sore ini.
"Oh ya, apa yang menyebabkan seorang Rara yang periang dan tangguh ini sedih?" tanyaku lanjut
"Aku tak pernah sedih sampe begini Na. Ini soal anak. Beliau memang tak mempermasalahkan anak, tapi bagiku anak sangatlah penting." ceritanya sambil menahan isak
Allahuakbar.. Inilah masalah yang sangat menghantui pasangab yang sudah halal. Banyak pasangan yang belum resmi menjadi suami-istri malah sudah menebar benih dimana-mana. Hingga, lahirlah anak yang suci namun bercap haram di mata masyarakat.
Sungguh, ini adalah fenomena akhir zaman yang nyata. Anak yang masih berselubung ari-ari terbuang diemperan, dikerubungi lalat dan belatung. Di tempat lain, ada juga bayi yang merindukan asupan kasih sayang orang tua, namun takdir yang dihadirkan orang tuanya membuat tubuhnya tak lagi utuh dan senyumnya hanya ada saat ia telah berada dalam dekapan yang Maha Kuasa.
Dan kini di hadapanku, ada seorang tetangga, teman, kakak dan sahabat yang sedang merintih merindukan hadirnya buah hati penyejuk mata.
Ahh..
Hati mana yang tak teriris.
Aku.. Apa yang bisa ku katakan untuk menghilangkan sedihnya. Sedang aku, belum merasakan ataupun menjalani pernikahan. Aku masih terpaku atau bisa dikatakan jalan di tempat dengan masalah klasikku yang belum ku selesaikan.
"Sabar Ra. Mungkin Allah masih menginginkan kalian bersama lebih lama. Mengeksplore kedewasaan kalian untuk bisa dipercaya olehNya untuk menitipkan si kecil itu" saranku. Saran yang sangay klasik dan sok bijak, mungkin. Namun, apa lagi yang bisa kuucap?
"Iya Na. Tapi sekarang, di usia pernikahan kami yang hampir setahun, aku merasakan ada yang berbeda dengan pernikahan kami. Setiap keluar jalan-jalan ada yang hambar. Ada yang lain. Seperti sebuah kebosanan. Dan semalam adalah puncaknya kegelisahan itu. Aku telah berbicara dengan beliau secara damai. Aku rela, jika aku dan beliau tak bisa memiliki anak, maka beliau boleh memilih wanita lain tanpa harus meninggalkanku." ceritanya panjang lebar
Bersambung..
Ini tentang hatiTak semua bisa dikaitkan dengan cinta
Ada senyum yang melekat
Cemas yang memeluk rapat
Rasa bersalah yang bersemayam di balik umpat
Setia yang tak mengenal tempat
Semua bersatu layaknya sedang rapat
Hati..
Hati siapa yang tak akan gulana
Jika aneka rasa menyeruak tanpa aba-aba
Timbul bagai ikan yang muncul dari balik rawa
Sebentar menangis, murung sekejap kemudian tertawa
Apakah ini bisa dinamakan cinta?
Cinta yang membuat gila
Hati..
Siapa sangka ada yang rela mengorbankan diri
Demi menjaga hati seorang yang dicintai
Agar ia tak tersakiti
Agar ia tak tersalahi
Agar ia tak dimarahi
Agar ia lepas dari tirani
Hati..
Siapa yang sangka ada seseorang yang mampu diam
Saat dirinya dihujani ribuan kecam
Itu demi apa? Bahkan justru kata maaf tak pernah ia pendam
Karena ia ingin seseorang yang dia sayangi tak merasa disalahkan oleh alam
Hati..
Siapa yang akan tahan dengan senyuman yang lembut
Senyuman yang mampu menghalau datangnya kabut
Walau hatinya berkali-kali lebam, ia tak ingin seseorang berlutut
Meminta maaf karena ada hati yang terenggut.
Hati..
Kini seseorang itu telah sadar
Ia tak ingin memanfaatkan kebaikan orang yang bersabar
Biarlah berjauhan menjadi salah satu alternatif untuk membuat pagar
Biarlah mereka begini untuk memantik cinta yang akan terus berpendar
Yang akan merobohkan pagar dengan radar
Hingga saat yang tepat mereka pun akan berlayar
Mungkin inilah yang dinamakan cinta
Pernah menitikkan air mata untuknya
Tersenyum dan tertawa bahagia dengannya
Bahkan harus ikhlas meninggalkannya
Yahh.. Lebih dari setengah windu berjalan bersamanya. Berkomitmen terus untuk mencintainya. Telah banyak yang ia tanam di dalam pribadi ini. Berbagai kisah dan sejarah masih segar dalam ingatan. Bayangan wajah- wajah rekan seperjuangan tak bisa diguyur air untuk menenggelamkannya.
Inilah Dakwah. Inilah Cinta. Inilah air mata
Saat wajah-wajah itu surut meninggalkan kenangan
Berbalik arah untuk pilihannya
Bukankah mereka masih saudara kita?
Bukankah mereka pernah jadi bagian dalam kucuran cinta kita?
Yang terikat dalam rabithah dan doa-doa panjang untuk tetap istiqamah
Kendatipun kita tak bisa menahan jemarinya meninggalkan jemari kita
Lantas kenapa harus ada stempel Futur?
Inilah Dakwah. Inilah cinta. Inilah tawa bahagia
Saat pribadi itu mengajakmu ke jenjang baru
Berkumpul untuk saling menasihati
Berkumpul untuk saling berbagi
Membingkai potret kebersamaan yang tulus karenaNya
Menghabiskan waktu di ruang kecil dengan tumpukan amanah yang membuatmu tertawa renyah sambil berkata
'Ini adalah tanggung jawab kita untuk umat. Sedangkan tugasku tanggungjawabku untuk ayah dan bunda'
Waktu pun habis dalam rapat- rapat yang tak menetap tempatnya
Ruang kelas dan mushalla inginnya berdampingan
Namun tetap saja harus berjarak di keduanya
Hingga kita pun harus berani memilih. Agenda dakwah bersama atau agenda kuliah
Dan tak pernah terlontar ana absen akh,ukh
Sebab ana sibuk dan memilih meninggalkan amanah dakwah
Biarlah kuliah menjadi citaku, sedang Dakwah menjadi cinta kita.
_Moment indah bersama FUAT telah terlewati_
Sama halnya dengan pakaian kotor yang tak pernah membenci pemiliknya. (Husna Linda Yani AY)
Yah.. Hari ini, lagi-lagi saya mendapat pelajaran dari Allah melalui pakaian. Saat saya mencuci pakaian yang telah kotor. Seperti hendak menegur entah memberi peringatan untuk saya. Tapi saya menyebutnya Tarbiyah dari Allah.
Siapa yang tak punya pakaian yang banyak dan bertumpuk di lemari. Bahkan ada yang harus menambah jumlah Lemari untuk bisa menampung pakaian yang terus bertambah setiap hari atau bulan bahkan per tahun. Atau ada yang memiliki tingkat sosial tinggi memilih untuk menghibahkan pakaian-pakaiannya untuk orang yang membutuhkan.
Setiap pakaian yang telah digunakan setiap harinya pastilah akan kotor. Tak mungkin terus dalam kondisi yang sama seperti sediakala. Walaupun hanya sekejap digunakan, tetap saja debu dan keringat menyapa pakaian. Dan akhirnya mau tidak mau kita harus menyucinya lagi.
Berbeda kotor, jenis kain dan sifat kain tersebut pastilah berbeda juga kita mencucinya. Tak mungkin kan kain yang luntur disatukan dengan pakaian putih? Bisa-bisa rusaklah warna kain putih. Tak mungkin pula jika pakaian yang terkena najis kita satukan dengan yang tidak?
Yah
Pakaian yang kotor tak pernah membenci si pemakainya
Pakaian yang kotor tak pernah menyalahkan si pemakai
Pakaian yang kotor tak pernah mengutuk si pemakainya
Bukankah kita harus seperti itu?
Sepanjang hari kita menghabiskan waktu dengan hal-hal yang melalaikan
Hingga saat waktu berhenti, kita selalu mengutuk Tuhan karena membiarkan kita larut dalam kelalaian.
Wahai diri..
Ujianmu hari ini dan kemarin mungkin kau rasakan sama.
Itu karena menggunungnya dosamu yang telah berkarat
Sehingga IA selalu menyucikanmu
IA selalu mengingatmu
Tak pernah meninggalkan kamu sendiri
IA selalu mendampingi hari-harimu agar kau tak selalu menumpuk noda
'Samson membunuh 600orang dengan sebuah tongkat penghalau lembu (Hakim-hakim 3 :31)'
'Samson membunuh 1000orang dengan tulang rahang keledai (Hakim-hakim 15: 15-16)'
'Samson berhubungan sex dengan pelacur di Gaza (Hakim-hakim 16: 1)'
Kemudian ada sebuah komentar yang membuat saya tercengang. Jujur ini adalah kali pertama saya mendengar adanya Nabi bernama Sam'un. Yah, walaupun saya tau Nabi itu jumlahnya lebih dari 25 bahkan sampai ribuan. Hanya saja saya cuma ingat tentang Nabi Khaidir.
Ini isi komentarnya..
"Samson adalah hamba Allah yang shaleh dan perkasa. Islam mengenalmya sebagai Sam'un. Kristen dan Yahudi mengotorinya dengan dongeng yang bodoh, murahan dan gak masuk ajal. Sayangnya banyak orang islam yang gak tau."
Jlebb banget stament terakhirnya itu. Nusuk banget.. Memang iya. Dan saya tidak memungkirinya. Akhirnya saya pun mencari tahu kisah NabiAllah as tersebut.
Ia adalah Nabi Sam'un Ghozi as. Kisah beliau terdapat di dalam kitab-kitab seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa. Nabi Sam'un juga memiliki mu'jizat yaitu dapat melunakkan besi dan dapar merobohkan istana.
Cerita Nabi Sam'un ini adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun temurun di jazirah arab. Cerita ini melegenda jauh sebelum Rasulullah lahir.
Dari kitab Muqastafatul Qulub karangan Al-Ghazalu, diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat di bulan Ramadhan. Kemudian Rasul bercerita tentang seorang Nabi yang diutus di tanah Romawi.
Dikisahkan Nabi Sam'un berperang melawan bangsa yang menentang ketuhanan Allah Swt, ketangguhan dan keperkasaan nabi Sam'un pun dipergunakan untuk menentang kafirun saat itu yaitu Raja Israil.
Akhirnya sang raja mencari jalan keluar untuk menundukkan Nabi Sam'un dengan mengadakan sayembaraa "Barang siapa yang dapat menangkap Sam'un Ghozi akan mendapatkan emas dan permata yang berlimpah" sesuai nasihat para penasihatnya...
Singkat cerita, Nabi Sam'un terpedaya oleh istrinya. Sangking sayang dan cintanya Nabi Sam'un pun berkata kepada istrinya, " jika ingin mendapatkan aku dalam keadaan tak berdaya maka ikatlah aku dengan potongan rambutku..
Akhirnya Nabi Sam'un diikat oleh istrinya saat tertidur lalu ia dibawa kehadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana Raja. Karena diperlakukan sedemikian hebat, Nabi Sam'un pun berdo'a.
Beliau memulai doa dengan bertaubat kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah. Doa beliau dikabulkan dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya beserta istri dan kerabat yang mengkhianatinya itu roboh. Luluh lantak dan tak bersisa.
Lalu beluau bersumpah kepada Allag swt, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Srmya itu atas hidayah dari Allah.
Ketika Rasulullah selesai menceritakan kisah Nabi Sam'un yang berjyang fisabilillah selama 1000 bulan, salah seorang sahabat berkata :
" Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiAllah Sam'un. Kemudian Rasulullah diam sejenak. Malaikat jibrul pun datang dan Mewahyukan kepada beliau bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam yang malam itu lebih baik dari 1000 bulan. Itulah asal myasal malam lailatul Qadar.
Pada kitab Qishashul Anbiya, dikisahkan:
Bahwa Rasulullah tersenyum sendiri, lalu bertantalah seorang sahabatnya. " apa yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulyllah?"
Rasul menjawab "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana selurub manusia dikumpulkan di mahstar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya mading-mading, masuk ke dalam syurga. Ada seorang Nabi dengan membawa pedang yang tidak mempunyai seorang pebgikut satupun, masuk ke dalam syurga. Dia adalag Sam'un.
![]() |
| 17/09/14 Perpisahan yang indah dengan Kak Okta |
Itulah cinta, memang tak harus memiliki. Cukup menjadi bagian dari mozaik kisah hidup orang yang kita cintai adalah sebuah kenikmatan, tanpa harus mengurangi kadar cinta kita kepadanya.
Miss u Kakak.. Big hug and kiss for u sista
Jika setiap pertemuan kembali terulang kesalahan yang sama hanya berbeda kondisi dengan tokoh yang tetap sama.
Salahkah, Bila ada hati yang mulai jengah?
Dan memilih untuk merubah haluan agar dapat menentramkan hati, walaupun sejatinya telah memaafkan.
Mungkin ini tak sama dengan yang dilakukan Rasulullah terhadap Wahsyi bin Harb yang membunuh paman terkasih nabi, Hamzah. Walaupun saat itu, ia belum Islam.
Ini memang tidak sama dengan kejadian tersebut
Namun ini terus berulang
Mungkin, Ini adalah ujian Tuhan
Yang aku rasa, aku belum lulus dan mampu memenangkan rasa ini.
Biarlah sejarah yang mengartikan semuanya
Jikalau pun sejarah tak memihak, Ku yakin roda terus berputar. Dan Allah lebih maha tahu segala sesuatu.
Dan, aku tak perlu kecewa, Walaupun aku telah memutuskan untuk menjalani hari-hari baru dengan lingkungan baru. Cinta itu masih ada, walau sedikit yang bisa kusisakan.
Kecewa??? Apa Orientasi kecewa?
Tidak dianggap?
Sebenarnya apa yang ingin kita cari?
Pengakuan atas legalitas diri?
Atau hanya ingin terus berbuat walau tak dianggap dan dilihat
Penilaian manusia memang sering salah
Jika kita terus-terusan mengharapkannya maka akan kecewa
So.. Tarik nafas, Rubah niat dan teruslah berbuat
Walau hanya menjadi yang terbuang sekalipun.
Karena yang terbuang bukanlah tak berguna
Hanya beda zona dan dimensi di mata manusia
Tapi, tetap mendapat posisi dan predikat yang sama dengan yang membuang
Bahkan lebih..
Tulisan ini, ku tulis untuk mengingat Almarhumah Kak Rika Wahyuni. Murabbi pertama yang mengajarkanku banyak kisah dan membuatku keluar dari sifat manja dan cengengku yang kerap merengek.
8-9-10. Tanggal yang sangat cantik menurutku. Tanggal yang mudah diingat, walaupun tanggal itu adalah waktu yang sangat sedih karena kepergiannya untuk selamanya.
Aku mengenalnya sejak SMP kelas 1. Saat itu, aku didesak oleh kakak ke empatku untuk mengikuti Rohis setiap Jum'at. Padahal saat itu, karena keterbatasan kelas di Sekolah kami, menyebabkan kami yang kelas 1 harus masuk sekolah di jam siang. Itu artinya setiap hari jum'at aku harus pergi cepat melawan arus kepulangan siswa-siswi kelas 2 dan 3.
Beliau sempat beberapa kali mengisi kajian jum'atan di sekolah kami. Dan kedekatan kami pun semakin terjalin, karena beliau teman melingkarnya kakak pertamaku. Alhasil aku pun kenal betul dengan mereka. Pada saat kelas 2, aku pun di angkat menjadi ketua Rohis dan beliau menjadi salah seorang kakak pembina. Yah begitulah pertautan hati kami yang tak begitu spesial mulanya.
Tahun terakhir aku menjadi siswi di SMP tersebut, beliau pun resmi menjadi guru Bahasa Indonesia. Aku sangat bahagia, dan sangking senangnya, aku pun lupa kalau keseringan memanggil 'Kak' padahal di ruang guru banyak guru lain. Walaupun beliau tidak mengajar di kelas kami, tetap saja aku tidak diizinkan oleh beliau untuk memanggilnya dengan sebutan Kak, di sekolah.
Aku sempat kesal kala itu. "Ih... kakak sombong kali, mentang-mentang dah jadi guru" dumel ku kesal. Dan karena kejadian itu, aku pun terbiasa memanggilnya Bu Ika.
![]() |
| Almarhumah jilbab coklat. Sangat sederhana pembawaannya |
Karena keaktifanku mulai meradar kemana-mana. Ikut organisasi ini-itu, di awal-awal seragam putih abu-abu dan terkenal tomboy. Aku pun di tarik untuk menjadi bagian lingkaran halaqah. HmmM... Halaqah tak asing lagi di telingaku. Karena sewaktu SMP pun sebenarnya kami sudah ada kelompok halaqah, hanya saja waktu itu namanya kelompok belajar. Apalagi sudah terbiasa ikut Rohis, yach... beda-beda tipislah itu.
Saat ini aku merasa seperti sesuatu yang tidak berharga. Aku belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku dan keluarga dengan predikat kelulusan yang mereka pinta. Benar, hidupku bagai parasit, menumpang hidup dari uang gaji pensiunan Abah yang tidak seberapa. Walaupun, aku juga mempunyai tabungan yang tak seberapa dari hasil kerja paruh waktu yang kadang tak menentu.
Nasib bukan belum bersahabat padaku, hanya saja kelalaianku yang membuatku mengacuhkan nasibku. Mungkin itulah tipeku.
Protes dari keluarga pun kerap ku terima. Aku pun hanya bisa menanggapinya dengan wajar dan sesungging senyum. Aku bukanlah tipe seseorang yang bisa meluapkan kemarahan dengan beradu argumen hingga tegang. Aku lebih memilih diam tanpa membantah. bagiku, membantah malah membuat masalah. Walaupun membantah itu demi mengutarakan kebenaran.
Fine.. Aku pun berada dalam keterpurukan. Pernah sempat terbesit dalam candaan dengan teman-teman untuk mengakhiri hidup dengan terjun dari jembatan lamnyong. Namun, hal itu urung ku lakukan. Aku masih tersadar, peran kita sebagai hamba yang harus mencerminkan kebaikan kepada yang lainnya.
Apa kata mereka, jika ada seorang aktivis dakwah yang nyaris bunuh diri. Jilbaber pula. Mempunyai kelompok binaan. Dan lahir dari keluarga yang paham agama. Itulah yang membuat niat yang hanya sebatas iseng-iseng ku urungkan. Bukan karena aku kasihan akan diriku, tapi aku takut mencemarkan nama yang membesarkanku.
Hanya dengan mengingat Allah, Hati akan jadi tenang. Ar-ra'du 28.
Yach.. Ayat itu sungguh sangat berkesan dalam diri saya. Ketika kegalauan kembali datang, Allahlah menjadi tempat sandaran. Dan setiap yang telah ku lalui adalah proses tarbiyah yang sangat bermakna dari Ilahi.
Dan itu Benar.. Saat saya galau dengan Tugas Akhir saya, dan saya merasa tidak berguna. Allah mengirimkan saya ke orang-orang yang bermasalah. Allah membuka rasa empati saya terhadap orang-orang di sekitar saya yang selama ini membutuhkan pertolongan.
Tapi, kenapa harus saya? Masih banyak orang shalih lainnya yang bisa membantu orang-orang tersebut. Sempat terbesit fikiran itu. Namun aku tak bisa menolak, walau aku harus kembali mengulang kebersamaan saya dengan Tugas Akhir saya dan kembali mengecewakan orang tua.
Demi Allah, Jika boleh memilih, aku ingin segera selesai dan membuat bibir orang tua tersungging manis kepadaku. Namun, Aku pun tak bisa menolak garis takdir Ilahi. Aku telah berjanji mewakafkan diriku di jalan Allah. Dan ternyata semua benar.Dan kini aku mengetahui rahasia yang Allah siapkan untukku. Hanya bisa menikmati indahnya keberkahan dan pertemuan-pertemuan baru dengan orang-orang yang sengaha Allah pertemukan.
Aku pun mulai berasa bermanfaat walau aku bukanlah orang hebat seperti yang lainnya yang tidak terbuang. Aku Yakin, curhatanku padamu, tak akan Kau acuhkan seperti kebanyakan orang yang ada di sekitarku.
Makasih Ya Rabb.. Hal yang terjadi pada mahasiswa FK itu tidak terjadi padaku. Terimakasih Engkau masih menjagaku dengan cara teristimewaMu.
![]() |
| Diambil dari postingan FB Aan setiawan |
Mahok yah aku mendadak Mahok. Bukan manusia Homo ya. Itu mah MAHO gak pake K. Ini Pake K.
Hobi ini mendadak aku dapatkan, saat aku bersilaturahim ke acara 40 hari meninggalnya sepupu. Aggghh... Bisa dibayangin kan, aku yang terkenal tomboy, malas dan cuek, bisa berkiprah di dapur? Pasti sesuatu yang amazing banget. Ya jelas donk, karena aku dulu memang gak suka berkecimpung di dunia yang sangat kewanitaan itu.
Biasa, sepulang sekolah aku langsung makan tanpa harus bersusah payah merajang cabe, bawang atau mengulek cabe dan sebagainya. Palingan aku sering disuruh buat beli garam atau hal remeh temeh di warung depan. Dan itu aku lakukan dengan ikhlas dan suka rela. Karena aku bisa keluyuran berjumpa teman-teman. Pernah sangking khilafnya bermain dengan teman-teman cowok, aku pun lupa membawa apa yang Mak suruh belikan. Kebayang donk, jadinya. Yah, repetan dan cubitan di perut itu pun aku rasakan.
Alasan lain kenapa aku malas masak, itu dikarenakan aku anak bungsu. Memiliki kakak yang banyak dan abang yang juga gak kalah dan malu-maluin masakannya, alias enak banget. Jadi, ngapain aku harus ikutan masak. Nanti mereka bakalan meledek dan membiarkan makanan yang ku masak tak tersentuh di piring nasi mereka. Hanya masak indomie yang bisa ku andalkan, karena menurut mereka buatanku luamayan enak. Hah, iya.. cuma lumayan. Itu pun karena mereka malas masak. Dan yang aku banggakan, Mak pun tak menuntutku untuk masak. Yes banget pokoknya.
Bertahun-tahun hidup di tanah rantau, alhasil aku pun mulai berdamai dengan egoku. Ceplok telur menjadi menu andalan, selain tumis-menumis. Biasa, anak kos. HmmmM kalau indomie, jangan ditanya lagi. Tapi, sejak sakit tahun lalu, aku pun sudah mengurangi makanan instan. Aku tak mau hidup yang berharga ini, dirampas oleh penyakit yang tak bertanggung jawab. Apalagi, aku gak melakukan perlawanan.
Nah, kembali lagi ke Mahok seminggu ini, itu karena saat silaturahim itu banyak sekali menu yang disajikan ala prancis. Selidik-selidik saat membantu keluarga mengontrol hidangan biar gak kosong saat tamu-tamu berdatangan, aku pun bertemu dengan biang kerok eh master dari ragam masakan yang disajikan. Ibu Catering. Sebelum bantu-bantu, aku telah mencicipi semua menunya. Mulai dari menu berat (Nasi dan beragam lauk-pauk), hingga menu ringan (Pudding yang beraneka rasa, Martabak mini, es buah dan beberapa lainnya)
Aku tak sungkan-sungkan menanyakan resep-resep dari si Ibu tersebut, sambil memuji enaknya masakan beliau. Bukan aku saja yang muji demi mendapatkan resep jitu beliau. Ini pujiannya bener-bener tulus. Tapi bapak-bapak di yang bantu-bantu dan para tamu pun ikut memuji.
Ternyata harga untuk satu porsi makan itu berkisar 35.000,00-40.000,00. Waw bayangin aja.. wajar-wajarlah menunya sesuatu banget. Kalau makan di warung yang ada di Banda Aceh, terutama warung padang, harga pake daging itu bisa sampai 15.000 sedang ini?
Terlepas dari harga yang membuat saya Mahok juga disebabkan karena sang ibu sangat kreatif mennyajikan olahan makanan ringannya. Sehingga saya merasa teracuni dengan keahlian memasak beliau. Ingin sekali rasanya berlutut sambil mengepalkan tangan dan berkata, "Ibu, Terimalah saya menjadi muridmu" dan gak bakalan berdiri sebelum mendengar jawaban "Iya, Kamu ibu terima, Husna"
Dan saya pun berhasil mengantongi handphone saya yang sudah berisikan no Hp si ibu itu. Sepulang dari rumah sepupu tersebut, aku pun mulai mencintai kompor, blender, dan alat-alat dapur yang ku punya. Dan minggu kemarin, aku pun mulai bereksperimen membuat Puding. Berkat tips dari sang ibu dan resep yang sudah ku googling malamnya. Tarrrraaaaa........ aku berhasil membuat Pudding Pepaya. (Fotonya ada di Hpnya teman, jadi aku comot aja ya ni yang ada di googling.. miriip kok.)
| Bedanya, aku gak pake coklat dan gak bergagang |







- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact