Sabtu, 07 Juli 2018 0 komentar

Kesempatan Kedua

Minggu, 10 April 2016 0 komentar

IBADAH : Berhenti Memadamkan API

Pelajaran luar biasa yang saya dapatkan sore ini. Setelah sekian lama hijrah meninggalkan rumah sewaku ke rumah teman, akhirnya sore tadi saya menyempatkan pulang ke rumah. Bukan berarti saya tidak pulang, hanya saja biasanya aku pulang sebentar ke rumah setelah magrib untuk mengambil beberapa keperluan. Dan kali ini beda, Pukul 17.30 saya sudah di rumah.

Allahu Rabbi.. Pemandangan apa ini? Ratusan dedaunan seenaknya saja parkir di depan rumah. Why? oh.. No. Saya bergegas masuk ke dalam meletakkan tas dan tiba-tiba Kak Dahni, teman se rumah muncul dari kamarnya. Beliau mengajakku untuk buang sampah ke pembuangan belakang. Tak ada alasan bagi saya untuk menolaknya, karena sampah saya juga maih tergantunng di luar. Kami memang terbiasa memisahkan segala sesuatu, agar muncul kesadaran untuk disiplin. Termasuk tidak membagi tempat sampah. Ini bukan kami pelit atau tidak kekeluargaan. Ini murni untuk meminimalkan perseteruan.

Setelah membuang sampah, saya pun meminjam sapu lidi milik penghuni rumah sebelah. Saya pun menghimpun dedaunan kering  yang berserakan. Karena rumah saya tipe rumah couple, dan rumahku yang letaknya paling ujung. jadi saya pun memulai menghimpun dedaunan itu dari rumah sebelah, karena jika saya tak menyapunya dari sana, percumalah saya berletih-letih menyapu, toh akhirnya sampah sebelah ditebangkan lagi oleh angin ke rumah. Bisa dua kali kerja bukan?

Setelah terkumpul dedaunan keering itu, aku meminta kak Dahni untuk membakarnya. Dan alhasil, karena kesalahan letak pembakaran, hampir saja kami melakukan kesalahan besar yaitu membakar sambungan kabel listrik yang tergantung tepat di bawah api. Api berkobar sangat tinggi, karena daun yang cukup  kering, sehingga kobaran api pun menjadi dahsyatnya.

Kami pun panik dan bergegas menyiramkannya air. Berharap tak kejadian hal yang tak diinginkan. Disinilah awal pelajaran berharga dari Allah.

Kak Dahni pun mendorong tumpukan sampah dedaunan itu ke arah lain dan bergegas membakarnya lagi. Syukurnya daun kering itu tak terlanjur basah. Sehingga masih bisa dihidupkan apinya.

Saya tersadar, saat api yang sempat padam perlahan hidup kembali. Ternyata memadamkan api, bukanlah cara yang tepat untuk menghentikan kobaran api. Mematikannya dengan menyiram adalah contoh pembunuhan karakter yang terlalu bahaya, dan bukan penyelesaian masalah.

Lihatlah, apa yang terjadi saat api yang sedang berkobar, kita siram dengan guyuran air. Api memang padam, namun komponen dari pemantik api tersebut, akhirnya melemah dan tak bisa digunakan hingga beberapa waktu ke depannya. apa itu pemantik api? ialah dedauan kering yang mulai basah dan lembab, yang akhirnya, akan menimbulkan masalah baru.

Begitu juga dengan diri kita, saat emosi datang, konflik perseteruan memanas antara sesama,  ataupun konflik dalam sebuah lembaga, memadamkan api kemarahan bukan dengan cara membekukan aktifitas mereka dalam sebuah lembaga tersebut. Tapi uraikanlah tumpukan api itu agar tak bersatu. Dengan begitu, kita tetap bisa memanajemen kobaran emosi.

Yah.. Inilah Pelajaran yang Allah berikan kepada saya sore ini. Ayat-ayat kauniyahnya begitu Jlep memperingati saya. Terimakasih Allah.

Lamduro, Aceh Besar. Januari 2015

Kamis, 31 Maret 2016 3 komentar

Al-Kahfi Vs Al-Kahfhone

Alangkah bersyukurnya saat melakukan perjalanan kita memeiliki teman-teman seperjalan yang senantiasa mengingatkan kita akan kewajiban sehari-hari , meskipun dalam perjalanan. Yah, itu juga adalah karunia Allah yang tidak ternilai dengan banyaknya harta yang kita punya Bayangkan saja, saat melakukan perjalanan panjang kita bersama orang-orang yang selalu merokok, memfitnah, mengadu domba, pemarah dan hal-hal lainnya. Sudah pastilah perjalanan panjang itu terasa membosankan dan tak ada arti apa-apa selain kata, ‘Menyesallah bepergian dengan si fulan atau fulanah itu.’

Saya teringat akan teman-teman Jaulah Amal Selatan Thailand silam. Alhamdulillah betapa beruntungnya saya dapat kembali bergabung dengan mereka orang-orang yang sangat bersemangat dan konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Sebelum bertolak dari USJ, Kuala Lumpur, Kak Mija sebagai Leader perjalanan kami, memperingatkan untuk melakukan shalat sunnah sebelum bermusafir, bermunajat kepada Allah untuk meridhoi perjalanan ini. Di rest area pun kita sengaja berhenti untuk menyempatkan diri shalat dhuha. Di dalam mobil pun, alunan al-ma’tsurat pagi ataupun petang juga kita wiridkan. Bahkan malam-malam yang kami lalui pun adalah mereka yang senantiasa bangun di sepertiga malam. Sehingga saya betul-betul merasakan keberkahan yang luar biasa ketika melakuakan perjalanan ini, inilah tim cinta ilahi yang tak mungkin saya lupakan.

Sesampainya kami di Betong, semua akses internet kami mati. Roaminglah semua kartu selular. Dua hari kami berkegiatan di daerah Betong, Yala dan Narathiwat, dua hari itu pula kami tidak bisa berkomunikasi dengan pihak keluarga, apalagi untuk mengapdet perkembangan informasi yang kami dapatkan selama di sana. Di tempat kami menginap pun tidak tersedianya wifi. Wifi hanya kami dapat saat berkunjung ke kantor Abee Ismaea. Beliau sangat faham dan memberikan kesempatan kepada kami untuk menikmati faslitas wifi.

Yah, bagaikan  ikan yang terdampar di pasir, megap-megap menahan  rindu dengan dunia luar, itulah sedikit rasa yang kami rasakan. Seperti mendapatkan setetes air walaupun sekejap mampulah untuk bertahan. Kamipun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memberikan informasi kepada family dan teman-teman bahwa kami baik-baik saja di Selatan Thailand. Dan selepas dari kantor tersebut kami kembali lagi bak ikan yang merindukan air.
Jumat, 29 Januari 2016 2 komentar

Untuk Cemburu Pun AKu Tak Berhak

Usahlah memaksa untuk melupakan kenangan yang terbina antara kita. Memaksa Melupakan artinya memaksa terus mengingat. Biarkan ia dengan sendirinya hingga ia benar-benar pupus dengan kenangan yang baru antara kita. (HLY) 


Untuk Cemburu Pun Aku Tak Berhak.
Siapalah aku yang harus sedih jika kau telah menemukan orang-orang terbaik di sekitarmu selain aku
Siapalah aku yang perlu memaksamu untuk berhenti dengan segala aktivitas duniamu
Siapalah aku yang harus iri ketika kamu sukses bersama orang-orang sukses lainnya
Siapalah aku yang harus tertawa jika kegagalan menghampirimu sesaat.

Dan Jikalau saat ini kamu masih tak menghiraukanku.
Aku akan selalu beranggapan 'Kesibukanmu terlalu padat, sehingga waktu istirahatmu pun tersita. Jangankan untuk diriku, waktu untuk dirimu saja begitu kau minimkan'
Wajarlah bila kebersamaan kita berkurang
Bukan karena ada hati yang tak lagi ingin menggapit erat wajah-wajah yang saling merindui
Senin, 26 Oktober 2015 0 komentar

Biarlah Cinta

Biarlah cinta
Dilepas pergi bersama hati yang lain
Biarlah cinta
Dipayungi rindu yang lain
Biarlah cinta
Menemui persinggahan yang lain
Biarlah cinta
Berlayar bersama Nahkoda yang lain
Biarlah cinta
Menyelami Sakinah bersama yang lain
Karena yang lain itu bukanlah dia
Tapi yang lain itu adalah kau yang belum mengenal aku dan aku pun belum mengenalmu
Biarlah cinta
Mengenalkan kita yang berlainan
Biarlah cinta
Menguatkan kita yang saling berbeda perangai
Biarlah cinta
Yang menyatukan kita dengan CintaNya
Yah..
Biarlah cinta
Senin, 06 Juli 2015 0 komentar

Jin Pun Tau itu 'Kewajiban'



Sudah lama meninggalkan laman http://husnaright.blogspot.com/ ini dikarenakan alasan klasik yang selalu dijadikan alasan. Ada rasa kecewa dikarenakan targetan menulis tidak terwujud. Namun, apa boleh dikata, Momen Ramadhan ini, semoga tulisaan ini menjadi pemantik semangat lagi untuk menulis. InsyaAllah.

Kali ini saya akan membahas tentang pengalaman saya hari ini di Posko Kuala Langsa. Alhamdulillah sudah hampir dua bulan bersama teman-teman yang tak mengenal lelah dalam memberikan kontribusi yang terbaik untuk saudara muhajirin dari Negri yang bagian utaranya berbatasan dengan Cina dan India. Tapi, saya tidak ingin membahas tentang kondisi mereka ataupun kondisi relawan. Ada hal lain yang cukup menggelitik hati saya, dan semoga bisa menjadi bacaan ringan bloggers sekalian.

 "Tidaklah Ku ciptakan Jin dan Manusia keculai supaya mereka menyembah-Ku" Qs. Adz-Dzariyat :56

Hasil gambar untuk alam jinTidak terasa Ramadhan sudah berbilang sembilan belas hari. Menjalankan puasa di daerah pesisir pantai, bagi saya yang tidak terbiasa tinggal di daerah tersebut merupakan tantangan yang luar biasa rasanya. Bagaimana tidak? Panas teriknya itu, sesuatu banget deh. Kipas angin yang banyak pun tidak mampu bersatu untuk meredam hawa panas di tenda, Sehingga jika tak kuat iman, bisa-bisa air galon 'Terminum' dengan sengaja. 

Siang ini, seperti biasa menjelang shalat zuhur, kami berbondong-bondong menuju Pos Jaga milik Pabrik Etanol yang ada di pelabuhan untuk menumpang shalat di mushalla kecil itu. Usai shalat, kami duduk- duduk sejenak melepas penat dan membiarkan bekas basuhan air wudhu meresap ke kulit yang dicoba bantu oleh angin yang sesekali berhembus. Kami pun mengisi momen-momen itu dengan bercerita ringan. Sesekali terdengar gelak tawa, rengekan dan lain sebagainya.

Entah mengapa, siang ini terasa beda, tiba-tiba saja kami membahas tema jin dan clusternya. Mungkin karena sebelumnya kami tengah asyik membahas tentag Dajjal hingga berlanjut ke maslah jin. Tiba-tiba seorang teman bertingkah aneh. Dia menatap saya tajam dan terdengar sedikit tawa yang tertahan. Sebab tangannya menutup mukanya.

Melihat gelagat aneh itu, saya pun mengambil sikap santai, tidak terkejut maupun panik. Ini bukan hal baru yang ku alami. Langsung saja saya meminta teman-teman untuk ikut membantu saya menangani kejadian ini. Saya pun mulai membaca Alfatihah dengan tenang, tiba-tiba terasa sakit. Sontak saja saya sempat terkejut, ia memukul tangan saya. 

Mencoba tetap tenang dengan tingkah teman yang terus meronta-ronta, akhirnya dengan izin Allah saya pun terus membacakan beberapa ayat Al-qur'an yang saya hafal. Alhamdulillah saya mencoba teknik berdialaog dengan jin tersebut, mencoba memberikan pemahaman padanya bahwa, tidak ada hak jin bersemayam di tubuh manusia, apalagi ini saudari kami. 

Ternyata jin itu wanita, dari cerita yang disampaikan dia meninggal di Laut dan dibuang di hutan dekat mushalla yang kami gunakan. Bisa dikatakan, dia adalah penunggu di daerah itu. Hidup sendirian tak punya teman membuat dia ingin mencari teman. Kebetulan kondisi teman yang mendukung untuk di singgahi, akhirnya terjadilah hal ini.

Tidak butuh waktu lama, setelah kita coba syahadatkan dan memberi pengertian bahwa sesama muslim tidak dibenarkan saling menyakiti, menzhalimi dan lain sebagainya, ia pun minta maaf dan berjanji akan keluar dan tidak akan mengganggu siapapun. Namun, sebelum ia pamitan untuk keluar, dia membisikkan kepada kami bahwa, 'Penduduk sekitar sini banyak yang tidak puasa, Seharusnya mereka malu. Sebab mereka Muslim' Bisiknya dan dia pun bertaya kepada saya, apakah saya puasa. Kemudian ia pun keluar diiringi salam dan kata maaf serta muntah sebagai tanda ia telah keluar.

Yah, memang kenyataannya demikian di lapangan. Banyak orang-orang yang terlibat dalam misi kemanusiaan  ini mulai dari rakyat setempat maupun yang pendatang, banyak yang tidak berpuasa. Wallahua'lam alasan mereka apa. Namun tetap ada juga yang berpusa dengan kondisi cuaca yang tak stabil. Tidak hanya di Kuala Langsa fakta tersebut, hanya saja itulah pengakuan dari jin setempat yang kini (Mari kita doakan) Semoga istiqamah dengan Agama Islam yang dia dapat.

Jin saja mengerti makna kewajiban berpuasa, Sementara kita??? Ah sudahlah. Cukuplah ini menjadi Nasihat tersendiri untuk saya sebagai hamba yang masih dhoif, jauh dari kesempurnaan dan dekat dengan kesalahan dan dosa yang berulang. Mungkin ini juga pelajaran tambahan bagi saya sebagai hamba yang faqir ilmu. Cara Allah mengajarkan kalamnya itu begitu luar biasa, penuh kejutan-kejutan cinta.

Ayoo.. Kembalilah ke fitrah awal kita diciptakan. Tugas dan kewajiban kita menyembah Allah, mengikuti segala yang diperintahkan.

Wallahua'lam bissawwab..


Kuala Langsa, 6 Juli 2015

Kamis, 09 April 2015 0 komentar

Kapan Mereka Berhenti?

Kapan Mereka Berhenti?
_Husna Linda Yani AY_


Ini adalah cerita dari tanah yang pernah disemayami para Nabi
Bukan Legenda yang dibubuhi roman picisan dari Negri antah-berantah
Ini adalah cerita dari tanah yang kini menjadi kubangan darah para pejuang suci
Darah yang meletup dari kepala ibu yang hendak melindungi bayinya
Darah yang bercucuran seiring lirih takbir terakhir pada Ilahi
Semburat darah pun melumuri potongan tulang-belulang sang Ayah
Apa kalian fikir mereka goyah dengan keadaan semacam itu?
Tidak!!!
Seujung kuku pun, tak ada rasa gentar menyambangi jemarinya
Bermodal bebatuan dan peluru seadanya
Berhimpit di lorong tak bercahaya untuk menyiapkan siasat
Justru tangan mereka mampu mematikan kebiadaban binatang yang berwujud manusia
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Karena relung hati mereka dekat dengan sumber cahaya
Karena fikiran mereka tertaut pada janji tuhannya
Karena hari-hari mereka, desah nafas mereka tak jauh dari Al-qur’an
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Itu yang membuat aku cemburu pada mereka
Tidakkah kalian juga cemburu sama seperti aku?
Jutaan rumah hancur
Mereka bangun hingga lagi-lagi lebur dengan jalan
Ribuan bahkan ratusan ribu syuhada telah pergi
Tak ada rasa sedih, yang ada hanya tangis cemburu, kapankah tiba giliranku?

Wahai saudara-saudariku..
Mereka sama dengan kita manusia biasa
Tapi mereka bukan pengecut bak keparat Israel yang berani melawan balita
Bahkan saat tubuh mereka tak bernyawa lagi, Zionis masih melemparinya dengan rudal
Begitulah ketakutan dan kebiadaban zionis

Tak ada paksaan untuk mereka bergerak
Tak ada iming-iming hadiah untuk torehan luka yang mereka rasakan
Semata-mata hanya inginkan tempat milik kita
Yah, milik kita. Bukan hanya milik mereka itu terbebas dari tangan yahudi laknatullah

Jangan pernah Tanya kapan mereka berhenti
Jangan pernah Tanya kapan mreka mengeluh
Haruskah kita menunggu sampai mereka mengeluh baru kita membantu mereka?
Haruskah mereka berjuang sendirian untuk pembebasan kiblat pertama kita?
Sedangkan kita asyik dengan tontonan tak bermutu
Yang isinya hanya kebohongan media

Yang menutupi darah pejuang di Gaza, Palestina.
Selasa, 24 Maret 2015 2 komentar

Mengulas Jejak Yang Sering Terlupakan

Baru sebentar bertemu, akhirnya kita berpisah juga. Baru sebentar rasanya berpisah, malah takdir mmempertemukan kembali. Atau malah perpisahan itu untuk selamanya.

Itulah perputaran hidup manusia. Kita tak pernah menduga dan tak bisa menerka apa yang terjadi di masa mendatang. Teman berkelahi di masa sekolah bisa jadi partner kehidupan yang membawanya ke pelaminan. Teman berpacu nilai tetringgi dari guru mate-matika, bisa jadi karyawan di kantor kita. Bahkan, Teman dekat malah ada yang berpaling dan berkhianat. Walau tak semuanya begitu.
Begitulah hidup ini.

Tak terasa, sepanjang perjalanan hidup ini, sudah berapa banyak orang yang kita temui. Beragam macam sifat dan perangai. Pastinya, tak hanya hal-hal yang menyenangkan saja yang telah kita lewati. Justru, ada torehan luka yang mungkin hingga kini belum termaafkan atau terlupakan. Na'uzubillah. Semoga seiring dengan kedewasaan usia kita, maka kita semakin dewasa menyikapi masa lalu tanpa harus membuntuti kita di masa kini dan akan datang. Maafkanlah jika ia bersalah. Termasuk juga saya. Maafkan.

Malam ini, saya kembali mengenang hal-hal yang telah saya lewati selama hampir seperempat abad. Mungkin, saya tak mampu mengingat semuanya secara sendirian, sebab usia 1-3 tahun, bahkan 4 tahun saya masih tak mampu mengingat kejadian apa yang saya alami. Adalah foto-foto masa lalu dan juga cerita-cerita yang bersumber dari mereka yang tercinta.

Menapa rasanya, baru saja kemarin saya duduk bersama 115 orang mahasiswa baru di jurusan Arsitektur?

Seakan saya baru saja menjabat sebagai presidium di Pemerintahan Mahasiswa Unsyiah. Diamanahi menjadi ibu di kementrian Polhukam yang selalu menanyai kabar anak-anak yang berjumlah lebih dari 50an orang. Dengan karakter yang masyaAllah sangat unik.

Baru saja rasanya dekat dengan anak-anak itu. Yang akhirnya memanggilku dengan sebutan Bundadari atau bunda. Baru saja rasanya.

Baru saja aku bersama dengan para penulis hebat di FLP Aceh yang kemudian mengutusku untuk bertemu dengan puluhan penulis se sumbagut yang akhirnya tersapalah aku dengan panggilan Mak, hingga kini. Baru saja rasanya

Baru saja rasanya, duduk rapat di BEM FT membahas beragam agenda, dan hal serupa rasanya baru saja ku lakoni bersama teman-teman DPM FT.

Ah.. Baru saja rasanya mengabdi di Lembaga yang sangat berjasa itu. LDF FUAT FT. Baru saja rasanya, walaupun kini..... Sudah beberapa generasi yang telah mewarnai setelah kami

Ah.. Baru saja. Sungguh baru saja aku menjadi seorang mutarabbi dari beberapa orang murabbi hasil mutasi. Dan kini, aku pun sudah menjadi murabbi, dan telah menjadi saksi pernikahan seorang mutarabbi. Ahh baru saja.

Baru saja aku merasakan moment-moment pulang kampung berkumpul dengan keluarga besar di tambah abang ipar dan kini, sudah ada kakak ipar dengan dua orang malaikat kecil serta seorang malaikat kecil lagi.

Rasanya. Baru saja aku hijrah menggenakan jilbab secara syar'i yang kemudian mempertemukanku dengan ROHIS, HIPISA, KAPMI dan KAMMI.

Ya Allah.. Baru saja rasanya, aku merengek tangis saat kau tiupkan ruh hingga aku mampu melihat dunia. Dan kini, tak terasa hampir seperempat abad.

Ya Allah, baru saja rasanya memiliki guru yang baik hati n sabar mendidikku ilmu duni dan ilmu akhirat, tapi kini, mereka telah pergi

Yah, Baru saja rasanya aku menjadi anak paling kecil di rumah ini dengan sebutan adek. Tapi ini, sebtan itu sudah milik keponakanku.

HmmM.. Baru saja rasanya, aku berlari-lari mengejar layangan di tengah lapangan, bermain petak umpet di kebun karet ataupun main rumah-rumahan di ladang ubi milik tetangga.

Baru saja rasanya, berseragam putih biru donker dan putih abu-abu.

Baru saja.. Baru saja dan Baru saja semua hal itu mengisi hari-hari saya.

Waktu begitu cepat berlalu rasanya. Tapi semua itu hanya rasanya. Kitalah yang terkadang sombong dan angkuh dalam menjalan hari-hari kita.

Jika ada masih diberi kesempatan untuk menrasakan baru saja rasanya, maka esok aku akan menuliskan rasanya menjadi seorang hafizah yang sudah tidak terbata-bata lagi dalam menghafal

Ingin dipertemukan dengan seseorang yang berani memintaku pada orang tua dan bersedia membimbingku menuju cintaNya.

Ingin merasakan menjadi ibu biologis dari anak-anak yang akan menjadi pribadi sukses dunia-akhirat, insyaAllah dan tetap menjadi ibu ideologis bagi mereka

Ingin rasanya menginjakkan kaki di rumahMu ya Rabb. Bersama mereka yang terkasih

Ingin Rasanya.................. (My Dream)

End


Senin, 15 Desember 2014 0 komentar

Anak

"Na, aku sedang sedih kali ini" Ucap Rara sambil masuk ke dalam rumah.

Raut wajahnya yang menurut orang-orang yang belum nengenalnya sangar, tak punya hati terasa berbeda sore ini. Ada lembayung rindu di sudut matanya.

Aku menuntunnya masuk dan mempersilahkannya duduk di ruang tamu ala anak kosan.

"Ini minum dulu, aku tak punya apa-apa. Cuma air zamzam alias air putih dan makanan ringan ini yang ku punya" ucapku setengah bercanda sambil menata gelas dan toples di depannya.

Rumah kami bersebelahan sebenarnya. Hanya saja kunci rumahnya terbawa adiknya dan suaminya pun belum pulang. Ini bukan kunjungan pertamanya ke rumahku. Tapi inilah kunjungan terlamanya, Allah mengatur waktu sedemikian syahdunya untuk sore ini.

"Oh ya, apa yang menyebabkan seorang Rara yang periang dan tangguh ini sedih?" tanyaku lanjut

"Aku tak pernah sedih sampe begini Na. Ini soal anak. Beliau memang tak mempermasalahkan anak, tapi bagiku anak sangatlah penting." ceritanya sambil menahan isak

Allahuakbar.. Inilah masalah yang sangat menghantui pasangab yang sudah halal. Banyak pasangan yang belum resmi menjadi suami-istri malah sudah menebar benih dimana-mana. Hingga, lahirlah anak yang suci namun bercap haram di mata masyarakat.

Sungguh, ini adalah fenomena akhir zaman yang nyata. Anak yang masih berselubung ari-ari terbuang diemperan, dikerubungi lalat dan belatung. Di tempat lain, ada juga bayi yang merindukan asupan kasih sayang orang tua, namun takdir yang dihadirkan orang tuanya membuat tubuhnya tak lagi utuh dan senyumnya hanya ada saat ia telah berada dalam dekapan yang Maha Kuasa.

Dan kini di hadapanku, ada seorang tetangga, teman, kakak dan sahabat yang sedang merintih merindukan hadirnya buah hati penyejuk mata.
Ahh..
Hati mana yang tak teriris.

Aku.. Apa yang bisa ku katakan untuk menghilangkan sedihnya. Sedang aku, belum merasakan ataupun menjalani pernikahan. Aku masih terpaku atau bisa dikatakan jalan di tempat dengan masalah klasikku yang belum ku selesaikan.

"Sabar Ra. Mungkin Allah masih menginginkan kalian bersama lebih lama. Mengeksplore kedewasaan kalian untuk bisa dipercaya olehNya untuk menitipkan si kecil itu" saranku. Saran yang sangay klasik dan sok bijak, mungkin. Namun, apa lagi yang bisa kuucap?

"Iya Na. Tapi sekarang, di usia pernikahan kami yang hampir setahun, aku merasakan ada yang berbeda dengan pernikahan kami. Setiap keluar jalan-jalan ada yang hambar. Ada yang lain. Seperti sebuah kebosanan. Dan semalam adalah puncaknya kegelisahan itu. Aku telah berbicara dengan beliau secara damai. Aku rela, jika aku dan beliau tak bisa memiliki anak, maka beliau boleh memilih wanita lain tanpa harus meninggalkanku." ceritanya panjang lebar

Bersambung..

Minggu, 14 Desember 2014 3 komentar

RADAR

Ini tentang hati
Tak semua bisa dikaitkan dengan cinta
Ada senyum yang melekat
Cemas yang memeluk rapat
Rasa bersalah yang bersemayam di balik umpat
Setia yang tak mengenal tempat
Semua bersatu layaknya sedang rapat

Hati..
Hati siapa yang tak akan gulana
Jika aneka rasa menyeruak tanpa aba-aba
Timbul bagai ikan yang muncul dari balik rawa
Sebentar menangis, murung sekejap kemudian tertawa
Apakah ini bisa dinamakan cinta?
Cinta yang membuat gila

Hati..
Siapa sangka ada yang rela mengorbankan diri
Demi menjaga hati seorang yang dicintai
Agar ia tak tersakiti
Agar ia tak tersalahi
Agar ia tak dimarahi
Agar ia lepas dari tirani

Hati..
Siapa yang sangka ada seseorang yang mampu diam
Saat dirinya dihujani ribuan kecam
Itu demi apa? Bahkan justru kata maaf tak pernah ia pendam
Karena ia ingin seseorang yang dia sayangi tak merasa disalahkan oleh alam

Hati..
Siapa yang akan tahan dengan senyuman yang lembut
Senyuman yang mampu menghalau datangnya kabut
Walau hatinya berkali-kali lebam, ia tak ingin seseorang berlutut
Meminta maaf karena ada hati yang terenggut.

Hati..
Kini seseorang itu telah sadar
Ia tak ingin memanfaatkan kebaikan orang yang bersabar
Biarlah berjauhan menjadi salah satu alternatif untuk membuat pagar
Biarlah mereka begini untuk memantik cinta yang akan terus berpendar
Yang akan merobohkan pagar dengan radar
Hingga saat yang tepat mereka pun akan berlayar
Kamis, 20 November 2014 0 komentar

Bersamamu Ci(n)ta Teknik

Mungkin inilah yang dinamakan cinta
Pernah menitikkan air mata untuknya
Tersenyum dan tertawa bahagia dengannya
Bahkan harus ikhlas meninggalkannya

Yahh.. Lebih dari setengah windu berjalan bersamanya. Berkomitmen terus untuk mencintainya. Telah banyak yang ia tanam di dalam pribadi ini. Berbagai kisah dan sejarah masih segar dalam ingatan. Bayangan wajah- wajah rekan seperjuangan tak bisa diguyur air untuk menenggelamkannya.

Inilah Dakwah. Inilah Cinta. Inilah air mata
Saat wajah-wajah itu surut meninggalkan kenangan
Berbalik arah untuk pilihannya
Bukankah mereka masih saudara kita?
Bukankah mereka pernah jadi bagian dalam kucuran cinta kita?
Yang terikat dalam rabithah dan doa-doa panjang untuk tetap istiqamah
Kendatipun kita tak bisa menahan jemarinya meninggalkan jemari kita
Lantas kenapa harus ada stempel Futur?

Inilah Dakwah. Inilah cinta. Inilah tawa bahagia
Saat pribadi itu mengajakmu ke jenjang baru
Berkumpul untuk saling menasihati
Berkumpul untuk saling berbagi
Membingkai potret kebersamaan yang tulus karenaNya
Menghabiskan waktu di ruang kecil dengan tumpukan amanah yang membuatmu tertawa renyah sambil berkata
'Ini adalah tanggung jawab kita untuk umat. Sedangkan tugasku tanggungjawabku untuk ayah dan bunda'

Waktu pun habis dalam rapat- rapat yang tak menetap tempatnya
Ruang kelas dan mushalla inginnya berdampingan
Namun tetap saja harus berjarak di keduanya
Hingga kita pun harus berani memilih. Agenda dakwah bersama atau agenda kuliah
Dan tak pernah terlontar ana absen akh,ukh
Sebab ana sibuk dan memilih meninggalkan amanah dakwah
Biarlah kuliah menjadi citaku, sedang Dakwah menjadi cinta kita.

_Moment indah bersama FUAT telah terlewati_

Sabtu, 08 November 2014 0 komentar

IBADAH (Intensive Belajar kitA Dengan AllaH)

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin (TereLiye)
Sama halnya dengan pakaian kotor yang tak pernah membenci pemiliknya. (Husna Linda Yani AY)

Yah.. Hari ini, lagi-lagi saya mendapat pelajaran dari Allah melalui pakaian. Saat saya mencuci pakaian yang telah kotor. Seperti hendak menegur entah memberi peringatan untuk saya. Tapi saya menyebutnya Tarbiyah dari Allah.

Siapa yang tak punya pakaian yang banyak dan bertumpuk di lemari. Bahkan ada yang harus menambah jumlah Lemari untuk bisa menampung pakaian yang terus bertambah setiap hari atau bulan bahkan per tahun. Atau ada yang memiliki tingkat sosial tinggi memilih untuk menghibahkan pakaian-pakaiannya untuk orang yang membutuhkan.

Setiap pakaian yang telah digunakan setiap harinya pastilah akan kotor. Tak mungkin terus dalam kondisi yang sama seperti sediakala. Walaupun hanya sekejap digunakan, tetap saja debu dan keringat menyapa pakaian. Dan akhirnya mau tidak mau kita harus menyucinya lagi.

Berbeda kotor, jenis kain dan sifat kain tersebut pastilah berbeda juga kita mencucinya. Tak mungkin kan kain yang luntur disatukan dengan pakaian putih? Bisa-bisa rusaklah warna kain putih. Tak mungkin pula jika pakaian yang terkena najis kita satukan dengan yang tidak?

Yah
Pakaian yang kotor tak pernah membenci si pemakainya
Pakaian yang kotor tak pernah menyalahkan si pemakai
Pakaian yang kotor tak pernah mengutuk si pemakainya

Bukankah kita harus seperti itu?
Sepanjang hari kita menghabiskan waktu dengan hal-hal yang melalaikan
Hingga saat waktu berhenti, kita selalu mengutuk Tuhan karena membiarkan kita larut dalam kelalaian.


Wahai diri..
Ujianmu hari ini dan kemarin mungkin kau rasakan sama.
Itu karena menggunungnya dosamu yang telah berkarat
Sehingga IA selalu menyucikanmu
IA selalu mengingatmu
Tak pernah meninggalkan kamu sendiri
IA selalu mendampingi hari-harimu agar kau tak selalu menumpuk noda



Rabu, 05 November 2014 0 komentar

Nabi yang tak berpengikut

Saya menuliskan kisah ini, dilatarbelakangi ke kurangan ilmu yang ada dalam diri saya juga rasa penasaran atas pernyataan teman diskusi lintas agama dalam sebuah group.

'Samson membunuh 600orang dengan sebuah tongkat penghalau lembu (Hakim-hakim 3 :31)'
'Samson membunuh 1000orang dengan tulang rahang keledai (Hakim-hakim 15: 15-16)'
'Samson berhubungan sex dengan pelacur di Gaza (Hakim-hakim 16: 1)'

Kemudian ada sebuah komentar yang membuat saya tercengang. Jujur ini adalah kali pertama saya mendengar adanya Nabi bernama Sam'un. Yah, walaupun saya tau Nabi itu jumlahnya lebih dari 25 bahkan sampai ribuan. Hanya saja saya cuma ingat tentang Nabi Khaidir.

Ini isi komentarnya..
"Samson adalah hamba Allah yang shaleh dan perkasa. Islam mengenalmya sebagai Sam'un. Kristen dan Yahudi mengotorinya dengan dongeng yang bodoh, murahan dan gak masuk ajal. Sayangnya banyak orang islam yang gak tau."

Jlebb banget stament terakhirnya itu. Nusuk banget.. Memang iya. Dan saya tidak memungkirinya. Akhirnya saya pun mencari tahu kisah NabiAllah as tersebut.

Ia adalah Nabi Sam'un Ghozi as.  Kisah beliau terdapat di dalam kitab-kitab seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa. Nabi Sam'un juga memiliki mu'jizat yaitu dapat melunakkan besi dan dapar merobohkan istana.

Cerita Nabi Sam'un ini adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun temurun di jazirah arab. Cerita ini melegenda jauh sebelum Rasulullah lahir.

Dari kitab Muqastafatul Qulub karangan Al-Ghazalu, diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat di bulan Ramadhan. Kemudian Rasul bercerita tentang seorang Nabi yang diutus di tanah Romawi.

Dikisahkan Nabi Sam'un berperang melawan bangsa yang menentang ketuhanan Allah Swt, ketangguhan dan keperkasaan nabi Sam'un pun dipergunakan untuk menentang kafirun saat itu yaitu Raja Israil.

Akhirnya sang raja mencari jalan keluar untuk menundukkan Nabi Sam'un dengan mengadakan sayembaraa "Barang siapa yang dapat menangkap Sam'un Ghozi akan mendapatkan emas dan permata yang  berlimpah" sesuai nasihat para penasihatnya...

Singkat cerita, Nabi Sam'un terpedaya oleh istrinya. Sangking sayang dan cintanya Nabi Sam'un pun berkata kepada istrinya, " jika ingin mendapatkan aku dalam keadaan tak berdaya maka ikatlah aku dengan potongan rambutku..

Akhirnya Nabi Sam'un diikat oleh istrinya saat tertidur lalu ia dibawa kehadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana Raja. Karena diperlakukan sedemikian hebat, Nabi Sam'un pun berdo'a.

Beliau memulai doa dengan bertaubat kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah. Doa beliau dikabulkan dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya beserta istri dan kerabat yang mengkhianatinya itu roboh. Luluh lantak dan tak bersisa.

Lalu beluau bersumpah kepada Allag swt, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Srmya itu atas hidayah dari Allah.

Ketika Rasulullah selesai menceritakan kisah Nabi Sam'un yang berjyang fisabilillah selama 1000 bulan, salah seorang sahabat berkata :

" Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiAllah Sam'un. Kemudian Rasulullah diam sejenak. Malaikat jibrul pun datang dan Mewahyukan kepada beliau bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam yang malam itu lebih baik dari 1000 bulan. Itulah asal myasal malam lailatul Qadar.

Pada kitab Qishashul Anbiya, dikisahkan:
Bahwa Rasulullah tersenyum sendiri, lalu bertantalah seorang sahabatnya. " apa yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulyllah?"
Rasul menjawab "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana selurub manusia dikumpulkan di mahstar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya mading-mading, masuk ke dalam syurga. Ada seorang Nabi dengan membawa pedang yang tidak mempunyai seorang pebgikut satupun, masuk ke dalam syurga. Dia adalag Sam'un.
Minggu, 21 September 2014 0 komentar

Mencintai Tak Mesti Memiliki

Ini cerita cintaku pada seorang kakak yang sangat menginspirasi. 'Mencintai Tak Mesti Memiliki'. Itu adalah mantra yang ku ucapkan selepas pertemuan pertama kali dengan kakak pemilik senyum yang indah. Mungkin alasan kenapa mantra itu ku sugestikan dalam diri adalah karena aku terlalu sering merasakan kehilangan orang yang ku cintai. Baik ia pergi untuk selamanya berjumpa dengan keempat jundinya yang telah menanti di sana. Atapun yang telah terlebih dahulu memiliki pasangan dan akhirnya aku segan untuk meminta hakku pada saudariku.

17/09/14 Perpisahan yang indah dengan Kak Okta
HmmM.. Entah kenapa, aku yang terkenal susah untuk percaya pada orang yang baru ketemui malah di saat itu cinta pun tak bisa ku elakkan. Yah, aku mencintainya. Mencintainya sebagai seorang kakak, teman dan juga guruku.

Teduhnya pesona beliau membuatku benar-benar terhipnotis ingin menjadi bagian orang-orang yang ada dekat beliau. Aku pun berbaur dengan ke empat jundinya yang sangat subhanallah sekali. Dari merekalah aku bisa mengenal sosok beliau. Fathi Syabab, Dialah yang paling pertama dekat denganku. Pemuda kecil nan  tampan, yang suka berpetualang dengan imajinasinya.  Rafa Shabrina, Dia sangat aktif dan sangat dekat dengan Fathi. /mungkin dikarenakan usianya yang hanya tertaut 1,5 tahun. Afya Haniya, Tak jauh berbeda dengan Fathi dan Rafa, sangat mudah untuk bersahabat dengannya. Khaira Sakhiya, Gadis kecil nan imut yang baru berusia 16 bulan ini, sangat susah untuk ditaklukkan hatinya. Dia sangat lengket dengan  umminya (mungkin ini faktor anak paling kecil, sama sepertiku)

Dari mereka, didikan kak Okta itu pun terasa. Senyum adalah senjata ampuhnya untuk meluluhkan anak-anaknya ketika mereka super aktif sambil bernegosiasi dengan bait-bait nasihat yang mudah difahami. Mereka juga dididik untuk saling mencintai dan menjaga satu sama lain.

Keunikan lainnya juga ku dapatkan dari beliau adalah. Cara beliau mengistimewakan buah hatinya. Sengaja beliau membesarkan mereka dengan tidak membeda-bedakannya. Agar tidak memicu kecemburuan dalam keluarga kecilnya. Contoh kecilnya adalah dengan memakaikan putra-putrinya baju yang sama.

Kakak yang juga mantan ketua osis dan aktif di kampus ini, membuatku nyaman untuk meminta nasihat darinya. Aku seakan mendapatkan kembali serpihan masa laluku. Allah seakan mengirimkan kembali seseorang yang mampu membuatku optimis kembali dalam hidup ini. Dan..Agar aku tidak salah menafsirkan rasa cinta dan bergantung pada manusia, maka Allah pun menskenariokan pertemuan kami yang singkat dan kembali memisahkan. Walaupun hanya sekejap, ku rasa cukup bagiku untuk tetap melafazkan syukur karena Allah pertemukan aku dengan kak Rina Suryani Oktari.

Itulah cinta, memang tak harus memiliki. Cukup menjadi bagian dari mozaik kisah hidup orang yang kita cintai adalah sebuah kenikmatan, tanpa harus mengurangi kadar cinta kita kepadanya.
Miss u Kakak.. Big hug and kiss for u sista
Minggu, 14 September 2014 0 komentar

Putusan Cinta

Memaafkan memang mudah, Tapi bagaimana cara tercepat menghilangkan masa lalu yang perih
Jika setiap pertemuan kembali terulang kesalahan yang sama hanya berbeda kondisi dengan tokoh yang tetap sama.
Salahkah, Bila ada hati yang mulai jengah?
Dan memilih untuk merubah haluan agar dapat menentramkan hati, walaupun sejatinya telah memaafkan.
Mungkin ini tak sama dengan yang dilakukan Rasulullah terhadap Wahsyi bin Harb yang membunuh paman terkasih nabi, Hamzah. Walaupun saat itu, ia belum Islam.
Ini memang tidak sama dengan kejadian tersebut
Namun ini terus berulang
Mungkin, Ini adalah ujian Tuhan
Yang aku rasa, aku belum lulus dan mampu memenangkan rasa ini.
Biarlah sejarah yang mengartikan semuanya
Jikalau pun sejarah tak memihak, Ku yakin roda terus berputar. Dan Allah lebih maha tahu segala sesuatu.
Dan, aku tak perlu kecewa, Walaupun aku telah memutuskan untuk menjalani hari-hari baru dengan lingkungan baru. Cinta itu masih ada, walau sedikit yang bisa kusisakan.
Sabtu, 13 September 2014 0 komentar

Usah Kecewa

Kecewa??? Apa yang membuat kita kecewa?
Kecewa??? Apa Orientasi kecewa?
Tidak dianggap?
Sebenarnya apa yang ingin kita cari?
Pengakuan atas legalitas diri?
Atau hanya ingin terus berbuat walau tak dianggap dan dilihat

Penilaian manusia memang sering salah
Jika kita terus-terusan mengharapkannya maka akan kecewa
So.. Tarik nafas, Rubah niat dan teruslah berbuat
Walau hanya menjadi yang terbuang sekalipun.

Karena yang terbuang bukanlah tak berguna
Hanya beda zona dan dimensi di mata manusia
Tapi, tetap mendapat posisi dan predikat yang sama dengan yang membuang
Bahkan lebih..
Jumat, 12 September 2014 2 komentar

Berbusana Tapi Telanjang



Rasullullah Saw bersabda, ”Antara penghuni-penghuni neraka ialah wanita yang memakai baju tetapi masih bertelanjang, menggodai dan digodai, mereka ini tidak akan masuk syurga malah bau syurga pun tidak akan sampai kepada mereka.”

Dunia fashion telah membanjir di era teknologi yag serba canggih seperti ini. Semua berlomba-lomba menciptakan trend-trend terbaru setiap tahunnya. Tak hanya model pakaian biasa, yang mini dan you can see alias kukater (Kurang kain semeter), sampai model baju muslimah.  

Memang produsen sengaja menjadikan wanita sebagai mangsa bisnis yang paling diutamakan. Dikarenakan sifat wanita yang selalu khilaf kalau sedang berada di pusat perbelanjaan dan juga sangat memperhatikan penampilan. Jadi tak salah kalau pakaian wanita beragam jenis dan modelnya ketimbang pakaian laki-laki.

Bagi seorang muslimah, tentunya ada syarat khusus dalam pakaian yang dikenakan. Bukan hanya sembarang ikut trend. Tapi kenyataannya, Walau berstatus sebagai Muslimah, pakaian yang dikenakan justru malah jauh dari aturan Islam, bahkan termakan dengan ajaran Islam. Kebanyakan berlindung dalam statement "Kami belum mendapatkan hidayah". Nah hal ini tidak hanya di kota-kota besar. Di desa yang terkenal dengan pendidikan Islam yang kental pun sudah mulai meninggalkan pakaian seorang muslimah. Sehingga, Jika ada wanita yang berbusana muslimah, menjadi bahan gunjingan berlabel "Sok alim lah", "Sekarang gak model lagi pakaian begini/begitu", "Bakalan gak dapat jodoh lho nanti" dan lain sebagainya.

Saya akui, sekarang sudah banyak pakaian-pakaian muslimah dengan desain yang trendi tanpa meninggalkan aturan-aturannya. Sehingga banyak yang mulai kembali menggenakan pakaian muslimah. walaupun digunakan pada acara-acara tertentu saja, misalanya ke pengajian, ke walimahan teman/saudara, ataupun ketika mata kuliah umum Agama.

Selain pakaian, jilbab pun tak kalah pentingnya. Jilbab juga termasuk dalam bagian pakain muslimah. Demi menjaga trend, padu-padan pakaian muslimah dan jilbab pun mulai beragam. Walaupun warna pakaian tidak senada dengan warna jilbab itu tidak mengapa, yang penting trendnya.

Muncullah, bergam tutorial jilbab dari yang ekstra ribet sampai yang ekstra super melilit, hingga yang mengikutinya mulai keblinnger.

Namun, sadarkah muslimah... Tahukah kalian syarat pakaian Muslimah itu apa?

1.Menutupi tubuh selain yang dikecualikan
Apa yang dikecualikan? Muka dan telapak tangan.. Itu artinya, Kaki juga termasuk aurat kan?

Rabu, 10 September 2014 0 komentar

4 Tahun Kepergiannya



Tulisan ini, ku tulis untuk mengingat Almarhumah Kak Rika Wahyuni. Murabbi pertama yang mengajarkanku banyak kisah dan membuatku keluar dari sifat manja dan cengengku yang kerap merengek.

8-9-10. Tanggal yang sangat cantik menurutku. Tanggal yang mudah diingat, walaupun tanggal itu adalah waktu yang sangat sedih karena kepergiannya untuk selamanya.

Aku mengenalnya sejak SMP kelas 1. Saat itu, aku didesak oleh kakak ke empatku untuk mengikuti Rohis setiap Jum'at. Padahal saat itu, karena keterbatasan kelas di Sekolah kami, menyebabkan kami yang kelas 1 harus masuk sekolah di jam siang. Itu artinya setiap hari jum'at aku harus pergi cepat melawan arus kepulangan siswa-siswi kelas 2 dan 3.


Beliau sempat beberapa kali mengisi kajian jum'atan di sekolah kami. Dan kedekatan kami pun semakin terjalin, karena beliau teman melingkarnya kakak pertamaku. Alhasil aku pun kenal betul dengan mereka. Pada saat kelas 2, aku pun di angkat menjadi ketua Rohis dan beliau menjadi salah seorang kakak pembina. Yah begitulah pertautan hati kami yang tak begitu spesial mulanya.

Tahun terakhir aku menjadi siswi di SMP tersebut, beliau pun resmi menjadi guru Bahasa Indonesia. Aku sangat bahagia, dan sangking senangnya, aku pun lupa kalau keseringan memanggil 'Kak' padahal di ruang guru banyak guru lain. Walaupun beliau tidak mengajar di kelas kami, tetap saja aku tidak diizinkan oleh beliau untuk memanggilnya dengan sebutan Kak, di sekolah.

Aku sempat kesal kala itu. "Ih... kakak sombong kali, mentang-mentang dah jadi guru" dumel ku kesal. Dan karena kejadian itu, aku pun terbiasa memanggilnya Bu Ika.

Almarhumah jilbab coklat. Sangat sederhana pembawaannya
Aku pun lulus dari Sekolah Menengah Pertama dan masuk ke jenjang seragam putih abu-abu. Dan hal itu, tidak memutuskan silaturahim kami. Kami masih bertatap muka di acara-acara eksternal sekolah seperti KAPMI (Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia), atau di RMR (Remaja Mesjid Rahmah), bahkan di rumah pun aku berjumpa dengan beliau saat sesekali beliau berkunjung menjumpai kakak dan keluargaku.

Karena keaktifanku mulai meradar kemana-mana. Ikut organisasi ini-itu, di awal-awal seragam putih abu-abu dan terkenal tomboy. Aku pun di tarik untuk menjadi bagian lingkaran halaqah. HmmM... Halaqah tak asing lagi di telingaku. Karena sewaktu SMP pun sebenarnya kami sudah ada kelompok halaqah, hanya saja waktu itu namanya kelompok belajar. Apalagi sudah terbiasa ikut Rohis, yach... beda-beda tipislah itu.

Selasa, 09 September 2014 0 komentar

Yang Terbuang

Siapa yang tidak pernah merasakan perasaan yang tak karuan gundahnya alias Galau. Yah, Aku pun pernah merasakan kegalauan.

Saat ini aku merasa seperti sesuatu yang tidak berharga. Aku belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku dan keluarga dengan predikat kelulusan yang mereka pinta. Benar, hidupku bagai parasit, menumpang hidup dari uang gaji pensiunan Abah yang tidak seberapa. Walaupun, aku juga mempunyai tabungan yang tak seberapa dari hasil kerja paruh waktu yang kadang tak menentu.

Nasib bukan belum bersahabat padaku, hanya saja kelalaianku yang membuatku mengacuhkan nasibku. Mungkin itulah tipeku.

Protes dari keluarga pun kerap ku terima. Aku pun hanya bisa menanggapinya dengan wajar dan sesungging senyum. Aku bukanlah tipe seseorang yang bisa meluapkan kemarahan dengan beradu argumen hingga tegang. Aku lebih memilih diam tanpa membantah. bagiku, membantah malah membuat masalah. Walaupun membantah itu demi mengutarakan kebenaran.

Fine.. Aku pun berada dalam keterpurukan. Pernah sempat terbesit dalam candaan dengan teman-teman untuk mengakhiri hidup dengan terjun dari jembatan lamnyong. Namun, hal itu urung ku lakukan. Aku masih tersadar, peran kita sebagai hamba yang harus mencerminkan kebaikan kepada yang lainnya.

Apa kata mereka, jika ada seorang aktivis dakwah yang nyaris bunuh diri. Jilbaber pula. Mempunyai kelompok binaan. Dan lahir dari keluarga yang paham agama. Itulah yang membuat niat yang hanya sebatas iseng-iseng ku urungkan. Bukan karena aku kasihan akan diriku, tapi aku takut mencemarkan nama yang membesarkanku.

Hanya dengan mengingat Allah, Hati akan jadi tenang. Ar-ra'du 28.

Yach.. Ayat itu sungguh sangat berkesan dalam diri saya. Ketika kegalauan kembali datang, Allahlah menjadi tempat sandaran. Dan setiap yang telah ku lalui adalah proses tarbiyah yang sangat bermakna dari Ilahi.

Dan itu Benar.. Saat saya galau dengan Tugas Akhir saya, dan saya merasa tidak berguna. Allah mengirimkan saya ke orang-orang yang bermasalah. Allah membuka rasa empati saya terhadap orang-orang di sekitar saya yang selama ini membutuhkan pertolongan.

Tapi, kenapa harus saya? Masih banyak orang shalih lainnya yang bisa membantu orang-orang tersebut. Sempat terbesit fikiran itu. Namun aku tak bisa menolak, walau aku harus kembali mengulang kebersamaan saya dengan Tugas Akhir saya dan kembali mengecewakan orang tua.

Demi Allah, Jika boleh memilih, aku ingin segera selesai dan membuat bibir orang tua tersungging manis kepadaku. Namun, Aku pun tak bisa menolak garis takdir Ilahi. Aku telah berjanji mewakafkan diriku di jalan Allah. Dan ternyata semua benar.Dan kini aku mengetahui rahasia yang Allah siapkan untukku. Hanya bisa menikmati indahnya keberkahan dan pertemuan-pertemuan baru dengan orang-orang yang sengaha Allah pertemukan.

Aku pun mulai berasa bermanfaat walau aku bukanlah orang hebat seperti yang lainnya yang tidak terbuang. Aku Yakin, curhatanku padamu, tak akan Kau acuhkan seperti kebanyakan orang yang ada di sekitarku.
Makasih Ya Rabb.. Hal yang terjadi pada mahasiswa FK itu tidak terjadi padaku. Terimakasih Engkau masih menjagaku dengan cara teristimewaMu.





Diambil dari postingan FB Aan setiawan
Kadangkala yang terbuang justru menjadi tempat menaung yang lainya. Jangan bersedih, seburuk apapun keadaanmu saat ini, bisa jadi kita menjadi tempat yang berguna bagi yang lainya. Menjadi tempat bernaung yang lainya | #motivation #life #animal #leaf


0 komentar

MendAdak HObi masaK (MAHOK)




Mahok yah aku mendadak Mahok. Bukan manusia Homo ya. Itu mah MAHO gak pake K. Ini Pake K.

Hobi ini mendadak aku dapatkan, saat aku bersilaturahim ke acara 40 hari meninggalnya sepupu. Aggghh... Bisa dibayangin kan, aku yang terkenal tomboy, malas dan cuek, bisa berkiprah di dapur? Pasti sesuatu yang amazing banget. Ya jelas donk, karena aku dulu memang gak suka berkecimpung di dunia yang sangat kewanitaan itu.

Biasa, sepulang sekolah aku langsung makan tanpa harus bersusah payah merajang cabe, bawang atau mengulek cabe dan sebagainya. Palingan aku sering disuruh buat beli garam atau hal remeh temeh di warung depan. Dan itu aku lakukan dengan ikhlas dan suka rela. Karena aku bisa keluyuran berjumpa teman-teman. Pernah sangking khilafnya bermain dengan teman-teman cowok, aku pun lupa membawa apa yang Mak suruh belikan. Kebayang donk, jadinya. Yah, repetan dan cubitan di perut itu pun aku rasakan.

Alasan lain kenapa aku malas masak, itu dikarenakan aku anak bungsu. Memiliki kakak yang banyak dan abang yang juga gak kalah dan malu-maluin masakannya, alias enak banget. Jadi, ngapain aku harus ikutan masak. Nanti mereka bakalan meledek dan membiarkan makanan yang ku masak tak tersentuh di piring nasi mereka. Hanya masak indomie yang bisa ku andalkan, karena menurut mereka buatanku luamayan enak. Hah, iya.. cuma lumayan. Itu pun karena mereka malas masak. Dan yang aku banggakan, Mak pun tak menuntutku untuk masak. Yes banget pokoknya.

Bertahun-tahun hidup di tanah rantau, alhasil aku pun mulai berdamai dengan egoku. Ceplok telur menjadi menu andalan, selain tumis-menumis. Biasa, anak kos. HmmmM kalau indomie, jangan ditanya lagi. Tapi, sejak sakit tahun lalu, aku pun sudah mengurangi makanan instan. Aku tak mau hidup yang berharga ini, dirampas oleh penyakit yang tak bertanggung jawab. Apalagi, aku gak melakukan perlawanan.

Nah, kembali lagi ke Mahok seminggu ini, itu karena saat silaturahim itu banyak sekali menu yang disajikan ala prancis. Selidik-selidik saat membantu keluarga mengontrol hidangan biar gak kosong saat tamu-tamu berdatangan, aku pun bertemu dengan biang kerok eh master dari ragam masakan yang disajikan. Ibu Catering. Sebelum bantu-bantu, aku telah mencicipi semua menunya. Mulai dari menu berat (Nasi dan beragam lauk-pauk), hingga menu ringan (Pudding yang beraneka rasa, Martabak mini, es buah dan beberapa lainnya)

Aku tak sungkan-sungkan menanyakan resep-resep dari si Ibu tersebut, sambil memuji enaknya masakan beliau. Bukan aku saja yang muji demi mendapatkan resep jitu beliau. Ini pujiannya bener-bener tulus. Tapi bapak-bapak di yang bantu-bantu dan para tamu pun ikut memuji.

Ternyata harga untuk satu porsi makan itu berkisar 35.000,00-40.000,00. Waw bayangin aja.. wajar-wajarlah menunya sesuatu banget. Kalau makan di warung yang ada di Banda Aceh, terutama warung padang, harga pake daging itu bisa sampai 15.000 sedang ini?

Terlepas dari harga yang membuat saya Mahok juga disebabkan karena sang ibu sangat kreatif mennyajikan olahan makanan ringannya. Sehingga saya merasa teracuni dengan keahlian memasak beliau. Ingin sekali rasanya berlutut sambil mengepalkan tangan dan berkata, "Ibu, Terimalah saya menjadi muridmu" dan gak bakalan berdiri sebelum mendengar jawaban "Iya, Kamu ibu terima, Husna"

Dan saya pun berhasil mengantongi handphone saya yang sudah berisikan no Hp si ibu itu. Sepulang dari rumah sepupu tersebut, aku pun mulai mencintai kompor, blender, dan alat-alat dapur yang ku punya. Dan minggu kemarin, aku pun mulai bereksperimen membuat Puding. Berkat tips dari sang ibu dan resep yang sudah ku googling malamnya. Tarrrraaaaa........ aku berhasil membuat Pudding Pepaya. (Fotonya ada di Hpnya teman, jadi aku comot aja ya ni yang ada di googling.. miriip kok.)



Dan senin kemarin, aku pun berhasil membuat Cake Pop.. Hanya saja, menu kedua ini di luar tanggung jawab saya, karena sangking semangat membuatnya dan saat itu saya sedang shaum sehingga tidak mencicipi terlebih dahulu, jadi deh agak blenyek alias terlalu lembek. Tapi, gak apa-apa namanya juga masih pemula dan akan terus berusaha untuk berdamai dengan dapur. (Gambar hasilnya ada di kamera kakak, kebetulan memori Hpku full dan malas untuk hapus. Jadi googling aja ya, cuma agak beda, dikit)
Bedanya, aku gak pake coklat dan gak bergagang


Oke, aku berjanji untuk gambar aslinya akan saya posting nanti, sekalian dengan resep dan nama dari hasil uji nyali ku.. Uji nyali mengenal bahan makanan yang sehat. Doakan terus supaya saya tetap MAHOK. Biar nanti, kalau berkeluarga aku bisa menyajikan makanan sehat selalu buat orang-orang terkasih. Seperti masakan Mak yang tiada duanya bagi setiap anaknya.




 
;