Dilepas pergi bersama hati yang lain
Biarlah cinta
Dipayungi rindu yang lain
Biarlah cinta
Menemui persinggahan yang lain
Biarlah cinta
Berlayar bersama Nahkoda yang lain
Biarlah cinta
Menyelami Sakinah bersama yang lain
Karena yang lain itu bukanlah dia
Tapi yang lain itu adalah kau yang belum mengenal aku dan aku pun belum mengenalmu
Biarlah cinta
Mengenalkan kita yang berlainan
Biarlah cinta
Menguatkan kita yang saling berbeda perangai
Biarlah cinta
Yang menyatukan kita dengan CintaNya
Yah..
Biarlah cinta
Itulah perputaran hidup manusia. Kita tak pernah menduga dan tak bisa menerka apa yang terjadi di masa mendatang. Teman berkelahi di masa sekolah bisa jadi partner kehidupan yang membawanya ke pelaminan. Teman berpacu nilai tetringgi dari guru mate-matika, bisa jadi karyawan di kantor kita. Bahkan, Teman dekat malah ada yang berpaling dan berkhianat. Walau tak semuanya begitu.
Begitulah hidup ini.
Tak terasa, sepanjang perjalanan hidup ini, sudah berapa banyak orang yang kita temui. Beragam macam sifat dan perangai. Pastinya, tak hanya hal-hal yang menyenangkan saja yang telah kita lewati. Justru, ada torehan luka yang mungkin hingga kini belum termaafkan atau terlupakan. Na'uzubillah. Semoga seiring dengan kedewasaan usia kita, maka kita semakin dewasa menyikapi masa lalu tanpa harus membuntuti kita di masa kini dan akan datang. Maafkanlah jika ia bersalah. Termasuk juga saya. Maafkan.
Malam ini, saya kembali mengenang hal-hal yang telah saya lewati selama hampir seperempat abad. Mungkin, saya tak mampu mengingat semuanya secara sendirian, sebab usia 1-3 tahun, bahkan 4 tahun saya masih tak mampu mengingat kejadian apa yang saya alami. Adalah foto-foto masa lalu dan juga cerita-cerita yang bersumber dari mereka yang tercinta.
Menapa rasanya, baru saja kemarin saya duduk bersama 115 orang mahasiswa baru di jurusan Arsitektur?
Seakan saya baru saja menjabat sebagai presidium di Pemerintahan Mahasiswa Unsyiah. Diamanahi menjadi ibu di kementrian Polhukam yang selalu menanyai kabar anak-anak yang berjumlah lebih dari 50an orang. Dengan karakter yang masyaAllah sangat unik.
Baru saja rasanya dekat dengan anak-anak itu. Yang akhirnya memanggilku dengan sebutan Bundadari atau bunda. Baru saja rasanya.
Baru saja aku bersama dengan para penulis hebat di FLP Aceh yang kemudian mengutusku untuk bertemu dengan puluhan penulis se sumbagut yang akhirnya tersapalah aku dengan panggilan Mak, hingga kini. Baru saja rasanya
Baru saja rasanya, duduk rapat di BEM FT membahas beragam agenda, dan hal serupa rasanya baru saja ku lakoni bersama teman-teman DPM FT.
Ah.. Baru saja rasanya mengabdi di Lembaga yang sangat berjasa itu. LDF FUAT FT. Baru saja rasanya, walaupun kini..... Sudah beberapa generasi yang telah mewarnai setelah kami
Ah.. Baru saja. Sungguh baru saja aku menjadi seorang mutarabbi dari beberapa orang murabbi hasil mutasi. Dan kini, aku pun sudah menjadi murabbi, dan telah menjadi saksi pernikahan seorang mutarabbi. Ahh baru saja.
Baru saja aku merasakan moment-moment pulang kampung berkumpul dengan keluarga besar di tambah abang ipar dan kini, sudah ada kakak ipar dengan dua orang malaikat kecil serta seorang malaikat kecil lagi.
Rasanya. Baru saja aku hijrah menggenakan jilbab secara syar'i yang kemudian mempertemukanku dengan ROHIS, HIPISA, KAPMI dan KAMMI.
Ya Allah.. Baru saja rasanya, aku merengek tangis saat kau tiupkan ruh hingga aku mampu melihat dunia. Dan kini, tak terasa hampir seperempat abad.
Ya Allah, baru saja rasanya memiliki guru yang baik hati n sabar mendidikku ilmu duni dan ilmu akhirat, tapi kini, mereka telah pergi
Yah, Baru saja rasanya aku menjadi anak paling kecil di rumah ini dengan sebutan adek. Tapi ini, sebtan itu sudah milik keponakanku.
HmmM.. Baru saja rasanya, aku berlari-lari mengejar layangan di tengah lapangan, bermain petak umpet di kebun karet ataupun main rumah-rumahan di ladang ubi milik tetangga.
Baru saja rasanya, berseragam putih biru donker dan putih abu-abu.
Baru saja.. Baru saja dan Baru saja semua hal itu mengisi hari-hari saya.
Waktu begitu cepat berlalu rasanya. Tapi semua itu hanya rasanya. Kitalah yang terkadang sombong dan angkuh dalam menjalan hari-hari kita.
Jika ada masih diberi kesempatan untuk menrasakan baru saja rasanya, maka esok aku akan menuliskan rasanya menjadi seorang hafizah yang sudah tidak terbata-bata lagi dalam menghafal
Ingin dipertemukan dengan seseorang yang berani memintaku pada orang tua dan bersedia membimbingku menuju cintaNya.
Ingin merasakan menjadi ibu biologis dari anak-anak yang akan menjadi pribadi sukses dunia-akhirat, insyaAllah dan tetap menjadi ibu ideologis bagi mereka
Ingin rasanya menginjakkan kaki di rumahMu ya Rabb. Bersama mereka yang terkasih
Ingin Rasanya.................. (My Dream)
End
"Na, aku sedang sedih kali ini" Ucap Rara sambil masuk ke dalam rumah.
Raut wajahnya yang menurut orang-orang yang belum nengenalnya sangar, tak punya hati terasa berbeda sore ini. Ada lembayung rindu di sudut matanya.
Aku menuntunnya masuk dan mempersilahkannya duduk di ruang tamu ala anak kosan.
"Ini minum dulu, aku tak punya apa-apa. Cuma air zamzam alias air putih dan makanan ringan ini yang ku punya" ucapku setengah bercanda sambil menata gelas dan toples di depannya.
Rumah kami bersebelahan sebenarnya. Hanya saja kunci rumahnya terbawa adiknya dan suaminya pun belum pulang. Ini bukan kunjungan pertamanya ke rumahku. Tapi inilah kunjungan terlamanya, Allah mengatur waktu sedemikian syahdunya untuk sore ini.
"Oh ya, apa yang menyebabkan seorang Rara yang periang dan tangguh ini sedih?" tanyaku lanjut
"Aku tak pernah sedih sampe begini Na. Ini soal anak. Beliau memang tak mempermasalahkan anak, tapi bagiku anak sangatlah penting." ceritanya sambil menahan isak
Allahuakbar.. Inilah masalah yang sangat menghantui pasangab yang sudah halal. Banyak pasangan yang belum resmi menjadi suami-istri malah sudah menebar benih dimana-mana. Hingga, lahirlah anak yang suci namun bercap haram di mata masyarakat.
Sungguh, ini adalah fenomena akhir zaman yang nyata. Anak yang masih berselubung ari-ari terbuang diemperan, dikerubungi lalat dan belatung. Di tempat lain, ada juga bayi yang merindukan asupan kasih sayang orang tua, namun takdir yang dihadirkan orang tuanya membuat tubuhnya tak lagi utuh dan senyumnya hanya ada saat ia telah berada dalam dekapan yang Maha Kuasa.
Dan kini di hadapanku, ada seorang tetangga, teman, kakak dan sahabat yang sedang merintih merindukan hadirnya buah hati penyejuk mata.
Ahh..
Hati mana yang tak teriris.
Aku.. Apa yang bisa ku katakan untuk menghilangkan sedihnya. Sedang aku, belum merasakan ataupun menjalani pernikahan. Aku masih terpaku atau bisa dikatakan jalan di tempat dengan masalah klasikku yang belum ku selesaikan.
"Sabar Ra. Mungkin Allah masih menginginkan kalian bersama lebih lama. Mengeksplore kedewasaan kalian untuk bisa dipercaya olehNya untuk menitipkan si kecil itu" saranku. Saran yang sangay klasik dan sok bijak, mungkin. Namun, apa lagi yang bisa kuucap?
"Iya Na. Tapi sekarang, di usia pernikahan kami yang hampir setahun, aku merasakan ada yang berbeda dengan pernikahan kami. Setiap keluar jalan-jalan ada yang hambar. Ada yang lain. Seperti sebuah kebosanan. Dan semalam adalah puncaknya kegelisahan itu. Aku telah berbicara dengan beliau secara damai. Aku rela, jika aku dan beliau tak bisa memiliki anak, maka beliau boleh memilih wanita lain tanpa harus meninggalkanku." ceritanya panjang lebar
Bersambung..
Ini tentang hatiTak semua bisa dikaitkan dengan cinta
Ada senyum yang melekat
Cemas yang memeluk rapat
Rasa bersalah yang bersemayam di balik umpat
Setia yang tak mengenal tempat
Semua bersatu layaknya sedang rapat
Hati..
Hati siapa yang tak akan gulana
Jika aneka rasa menyeruak tanpa aba-aba
Timbul bagai ikan yang muncul dari balik rawa
Sebentar menangis, murung sekejap kemudian tertawa
Apakah ini bisa dinamakan cinta?
Cinta yang membuat gila
Hati..
Siapa sangka ada yang rela mengorbankan diri
Demi menjaga hati seorang yang dicintai
Agar ia tak tersakiti
Agar ia tak tersalahi
Agar ia tak dimarahi
Agar ia lepas dari tirani
Hati..
Siapa yang sangka ada seseorang yang mampu diam
Saat dirinya dihujani ribuan kecam
Itu demi apa? Bahkan justru kata maaf tak pernah ia pendam
Karena ia ingin seseorang yang dia sayangi tak merasa disalahkan oleh alam
Hati..
Siapa yang akan tahan dengan senyuman yang lembut
Senyuman yang mampu menghalau datangnya kabut
Walau hatinya berkali-kali lebam, ia tak ingin seseorang berlutut
Meminta maaf karena ada hati yang terenggut.
Hati..
Kini seseorang itu telah sadar
Ia tak ingin memanfaatkan kebaikan orang yang bersabar
Biarlah berjauhan menjadi salah satu alternatif untuk membuat pagar
Biarlah mereka begini untuk memantik cinta yang akan terus berpendar
Yang akan merobohkan pagar dengan radar
Hingga saat yang tepat mereka pun akan berlayar


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact